On the paper *part 3* FINAL

On the paper

 

Title : On the paper

Author : A.Y.P
Genre : Sad, Romance, Marriedlife
Length : Chapter (short chapter)Main Cast :
* Bae Suzy ( MISS A )
* Kim Myungsoo ( INFINITE )

 Annyeong *waves hands* ini dia chap final dari FF geje dari aku. mian luamaaa bgt. aku sendiri juga ada tugas bikin novel dari sekola yg juga berhenti kekurangan ide. kudu fokus sama tugas sekolah dulu. this is for youuu.. myungzy’s shipper ^.^

Author’s POV.

Dua bulan berlalu sejak kejadian itu. Semuanya berjalan seperti semula. Walaupun Myungsoo memang berubah, sering menelfonnya hanya untuk sekedar basa-basi, mengajaknya liburan yang masih di sekitar Korea, meluangkan waktunya untuk menemani suzy berbelanja keperluan rumah, dan sebagainya. Tapi bagi suzy itu tetap sama saja.

Setelah apa yang ia lihatnya itu. kenangan terburuk dalam sejarah pernikahannya. Kenangan ia setiap hari ia coba untuk melupakan, mencoba untul ikhlas, dan mencoba untuk tersenyum ketika melihat Myungsoo. Sekeras apapun usahanya itu, ketika ia meihat Myungsoo, dalam waktu seperkian detik bayangan pahit itu datang lagi.

Tentu saja terbesit beberapa kali dalam pikirannya untuk meminta penjelasan akan hal itu pada Myungsoo. Tapi ia juga memperkirakan reaksi dari Myungsoo, walaupun ia tidak tahu pasti bagaimana reaksi Myungsoo nantinya, tapi ia telah menyimpulkan. Myungsoo akan mejauh dari kehidupannya. Tentu saja, ia tidak ingin itu terjadi, mengingat waktunya tidak lagi lama. Ia ingin mempergunakan kesempatan yang tidak datang dua kali ini. Ia seakan buta pada kenyataan.

“Suzy, aku nanti akan pulang terlambat. Kau tidak perlu menungguku,ne?” Myungsoo bangkit dari kursinya, dan berjalan kearah mobilnya.

Myungsoo membuka pintu mobilnya, seakan teringat pada sesuatu yang menjadi rutinitasnya, ia menutup pintu ia kembali, dab berjalan ke arah suzy yang menatapnya heran. “ada apa?”

Myungsoo hanya berdiri di depannya dan menatap Suzy lekat, menunggu pergerakan darinya. Mata Suzy tertuju pada dasi Myungsoo yang masih mengalung bebas itu. ahh, rupanya dasinya itu. tentu saja, namja ini tidak pernah mengenakan dasinya sendiri. Ia penasaran, bagaimana jadinya jika tidak ada dirinya nanti?

Tentu saja Sulli yang akan melanjutkan kegiatannya itu. benar.

Tangan suzy terulur untuk meraih dasi itu, tangannya bergerak dengan lincah tanpa melakukan kesalahan satupun. Ia tepuk pelan hasil karyanya itu dan tersenyum tipis. Myungsoo menunduk untuk melihat hasil dari kemampuan istrinya itu. sempurna, seperti biasanya.

“kau yang terbaik” ucap Myungsoo, sebelum mengecup kening Suzy.

******

“gwangju?” suzy menoleh pada Minjun yang sedang duduk di tepi lapangan.

“ne, seminggu lagi. Noona, eottoke? Hatiku tidak nyaman lagi” Minjun merengek seraya memainkan sepatunya. Diayunkan sepasang sepatu itu sekenanya. Sudah dua minggu ini, hatinya tidak nyaman. Pertandingan final basketnya akan diadakan  Gwangju. Perasaan takut akan kalah sangat mengganggu kegiatannya yang lain. Wajar memang, mereka telah berusaha sampai sejauh ini, sayang jika tidak menjadi juara, begitu juga dengan lawannya nanti. Tim mana yang dapat mengontrol emosi, dan skillnya itulah yang akan keluar jadi pemenang.

Karena itu Suzy berdiri di tengah lapangan basket seraya membawa bola, berniat mencetak angka dan latian ringan, selagi menunggu Minjun beristirahat. Sudah dua minggu ini, ia menjadi psikologi pribadi Minjun. Ia yang memberi nasehat, dukungan semangat, dan menghibur Minjun. Tidak, dari awal pertandingan malah. Ia selalu hadir disetiap pertandingan Minjun dengan membawa kamera yang ia pinjam dari Myungsoo.

Jika finalnya di Gwangju, ia juga harus ikut? Lalu, bagaimana dengan Myungsoo ? ahh, benar, ada Sulli. Suzy pabo, kenapa kau mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu?

“ne, noona ikut,kan?”

Suzy kembali menatap Ring dan melemparkan bola ke arah ring, masuk. Rupanya kemampuannya lebih baik dari hari kehari. Ini juga berkat sang master, Minjun.

Suzy menatap Minjun seraya tersenyum lebar “tentu saja, tapi jika kau kalah, kau harus menggendong noona pulang ke seoul. Bagaimana?”

Minjun mendelik mendengar syarat suzy, jika mereka kalah, ketenangan mentalnya sedang terusik, dan juga daya tahan fisiknya. “baiklah, setelah noona menurutkan berat badan menjadi 48kg”

Ia tahu, berat suzy saat ini 49kg. Secara tidak langsung, berat badan Suzy turun seiring ia melakukan latian bersama Minjun. Seharusnya Suzy berterima kasih, bukan?

“tsk, berat noona sekarang 48,5”

“jinja? Kenapa terlihat seperti 60kg?” Minjun mengubah ekspresinya menjadi terkejuat yang terlalu dibuat-buat, dan mendapatkan timpukan pelan di kepalanya dari Suzy.

“noona~~~, appooo~”

*******

Myungsoo mengambil majalah bisnis yang tergeletak di lantai dekat sofa, dan membacanya dalam diam menghiraukan suara dering ponselnya. Jangankan menjawab, sekedar melihat siapa yang menelfon saja ia tidak ingin. Sulli, sejak ia bangun hingga menjelang siang, yeoja itu menelfon. Terus mencoba, tidak mengenal tolakan.

Kesal dengan suara deringan itu, Myungsoo bangkit dan mematikan ponselnya itu. ia sengaja tidak mematikan ponselnya, kerena takut ada keperluan mendadak dari kantor. Tapi rasa kesalnya tidak dapat dibendung lagi.

“ahh.. molla” Myungsoo meletakkan ponselnya di sofa, dan menutupnya dengan bantal sofa.

Suzy menghembuskan nafasnya lega. Sejak tadi ia menahan nafas, takut-takut Myungsoo menjawab telfon itu, dan melesat pergi menemui Sulli. Sejak awal ponsel itu berdering, ia tahu jika itu Sulli. Deringan ponsel itu yang membangunkan dirinya dari mimpi indah, dan terganti menjadi kepanikan.

Kedua mata suzy perlahan terpejam ketika ia merasakan dagu yang tegas menyentuh pundaknya yang tidak terhalangi kain.

“apa yang kau buat? Kenapa lama sekali? Aku lapar” Suara Myungsoo yang serak terdengar jelas di telinganya, dan membuatnya merasakan sesuatu. Seperti rangsangan. Ia suka ini, suara Myungsoo yang terdengar seksi di daun telinganya.

Suzy membuka matanya perlahan dengan senyuman tipis “pasta”

“kubantu”

Suzy menyergit mendengar pernyataan Myungsoo. Laki-laki ini tidak bisa memasak.

Kedua tangan Myungsoo terulur melewati pinggang Suzy dengan cepat merebut sutil yang di pegang Suzy untuk mengaduk saosnya. Nyaman. Itulah yang ia rasakan sekarang ini. Tidak ada rasa canggung yang menyelimuti mereka berdua.

Tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia hanya diam memandang saosnya itu dengan senyum kecil. Dapat dirasakan pipinya panas. Ahh, jangan sampai Myungsoo melihatnya.

Myungsoo menjauhkan dagunya dari pundak suzy, dan berganti mendekatkan badannya ke punggung suzy. Pipi namja itu menyentuh rambut halus Suzy. Sedangkan tangan kirinya yang tidak berfungsi memeluk setengah pinggul –bagian depan- suzy. Mendekap istrinya itu erat.

Seyuman kecil itu semakin lebar. Myungsoo menunduk untuk melihat wajah cantik Suzy, tapi ia hanya dapat melihat bulu mata lentik istrinya itu.

“Suzy?”

Suzy menolehkan kepanya kesamping, dan mendongak untuk menatap Myungsoo. “hemm?” matanya terbelalak ketika melihat bibir Myungsoo yang berada tepat di depan matanya.

Jantungnya berdegup kencang, pandangannya tidak bisa lepas dari bibir Myungsoo yang menyeringai menampikan senyuman nakal yang menghipnotisnya.

“kau harus mematikan kompornya” terdengar suara setelah Myungsoo mengucapkan kalimat itu. sepertinya Myungsoo yang mematikan kompor itu dengan tangan kanannya yang –entah sejak kapan- tidak lagi memegang sutil. Ia terlalu fokus pada bibir Myungsoo hingga tidak menyadari hal sekecil itu.

Tangan kanan Myungsoo terangkat dan menempel pada pipi Suzy. Diusapnya pipi itu dengan lembut.

Suzy tersentak merasakan usapan lembut jemari Mtungsoo di pipinya itu. ia mengalihkan pandangannya dari bibir Myungsoo ke kedua mata tajam namja itu. mata itu menatapnya tajam, tapi ada kesan lembut di sana. Bukan tatapan tidak senang atau benci, melainkan tatapan lembut. Ia tidak pernah ditatao seorang namja begitu lembutnya.

Secara perlahan Myungsoo mendekatkan wajahnya pada wajahn Suzy. Ia merasa ragu, tapi melihat bagaimana cantik dan pipi Suzy yang berwarna merah itu membuantnya yakin. Apalagi melihat bibir Suzy yang sedikit terbuka, dan sedikit bergertar. Ini semua terlalu menggoda hatinya.

Bibir Myungsoo menyentuh bibir Suzy yang sedikit bergetar itu. tidak ada yang lucu, tapi melihat sikap Suzy yang seperti ini membuat Myungsoo senang. Ia adalah yang pertama bagi Suzy.

Jantung Suzy berdegup kencang. Tidak pernah terbesit dipikirannya kejadian seperti ini akan terjadi. Ini yang pertama baginya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak tahu cara membalas. Tunggu, itu tidak penting, akan lebih baik jika ia dapat mengatur detak jantungnya saat ini.

Dengan mata yang masih terbuka, ia dapat melihat dengan jelas kedua mata Myungsoo yang tertutup sempurna. Degup jantungny berdetak lebih cepat ketika Myungsoo mulai menciumnya semakin dalam. Ada nafsu dalamnya. Tapi ciuman itu bukan didasari rasa nafsu. Rasa sayang, mungkin?

Myungsoo menggerakkan tangannya yang ada di pinggul suzy, sehingga istrinya mengahadap ke arah. Ia tahu Suzy menatapnya, istrinya itu terkejut, terlebih lagi ini yang pertama baginya sehingga ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tangan kanannya yang menempel di pipi Suzy, berpindah ke punggung Suzy, mendekap ahu istrinya semakin erat. Dan menghapus jejak di antara mereka berdua.

Dengan ragu-ragu, Suzy menutup matanya. Betapa bahagianya ia sekarang ini. Hati yang tadinya panik akibat ponsel Myungsoo yang tidak berhenti mendering digantikan oleh butiran-butiran salju yang dingin dan menyejukkan.

*******

Suara tawa dari segerombolan remaja terdengar di tengah sunyinya kafe kopi siang itu. Minjun dan teman-temannya menikmati waktu santai mereka untuk pertandingan final basket dua hari lagi. Nanti malam mereka akan berangkat ke Gwanju untuk Final.

Latihan fisik sudah mereka siapkan jauh-jauh hari. Yang mereka perlukan sekarang ini adalah kesiapan mental. Mereka memilih datang ke kafe untuk sekedar bercanda. Seharian ini mereka sudah bermain di berbagi tempat yang menyenangkan di seoul. Dan satu hari sebelum pertandingan, mereka perlu latihan kecil untuk pemanasan, dan melatih otot.

Sulli mendongak dari buku yang sedang ia baca. Menatap sekumpulan namja yang sedang tertawa nyaring tanpa memperhatikan kenyamanan pengunjung lainnya. Tidak ingin ambil pusing, ia menatap jam tanggannya. Menunggu seseorang.

Bunyi gemercingan bola-bola kecil  yang terbuat dari alumunium terdengar ketika seorang namja membuka pintu. Myungsoo menatap isi kafe itu sejenak, mencari Sulli yang sejak tadi sudah menelfonnya dengan tidak sabaran.

Sulli melambaikan tangannya dengan semangat penuh ketika melihat Myungsoo di depan pintu. Myungsoo menghembuskan nafas beratnya sebelum berjalan ke arah meja Sulli. Sulli menghambur kepelukan Myungsoo ketika Myungsoo telah berdiri tepat di sampingnya.

“oppa, aku sudah menunggumu sejak lama”

Didorongnya kursi kafe itu sedikit, dan menghempaskan punggungya di sandaran kursi yang nyaman. Ia berniat langsung pulang setelah waktunya makan siang, dan menikmati masakan Suzy yang telah menantinya. Yang ada dipikirannya adalah wajahnya Suzy yang berlapiskan celemek menunggu kepulangannya.

Ia ingin memeluk Suzy erat dan melihat pipi merah yeoja itu. sejak mereka melakukannya dua hari yang lalu, ia menjadi tidak sabaran, dan ingin cepat-cepat mendengar kabar bahwa Suzy hamil. Sempat terbesit dalam pikirannya akan melakukannya lagi nanti malam. Ia ingin dua sekaligus. Berharap Suzy mengandung anak kembar. Yah, tapi ia ia harus menunggu setidaknya dua bulan untuk menunggu itu.

Sangat tidak mungkin, ketika mereka melakukannya kemarin, dan sekarang Suzy hamil. Ia yakin, saat kemarin melakukannya, Suzy dalam keadaan subur. Jadi kemungkinan Suzy hamil 85%, ahh tidak. Ia akan membuat menjadi 100%.

“oppa~ aku ingin ke pantai sore ini. Pergi bersamaku ya?” pinta sulli. Ia menopangkan wajahnya di punggung tangannya. Menunggu Myungsoo memberikan jawaban. Sebenarnya ia tidak butuh jawaban. Ia akan memaksa Myungsoo pergi dengannya. Harus.

“tidak bisa, aku ada rapat penting sampai malam. Kenapa kau tidak mengajak temanmu yang lain?”

“mereka sibuk dengan pasangan mereka. Pasangankukan oppa~”

Myungsoo menepuk pahanya pelan dan menghembuskan nafas berat. Sepertinya ia harus menyudahi ini semua. Perasaannya tidak nyaman ketika bersama dengan Sulli. Mungkin ia tidak lagi merasakan cinta ketika sikap Sulli yangberubah menjadi menyebalkan. Dan juga wajah Suzy yang dihiasi oleh senyuman terbesit dan pikirannya. Ini tidak benar. Ia harus menyudahi ini semua. Pernikahannya dengan Suzy dan juga hubungannya dengan Sulli.

“dia hamil” ucap Myungsoo singkat dan memandang lurus tepat mata Sulli. Sulli terkejut mendengar ucapan Myungsoo. Tidak tahu mengapa namja itu memberi tahu fakta ini. Jika ‘dia’ hamil terus kenapa?

“lalu?”

“aku tidak ingin melepas tanggung jawabku. Aku akan terus berada di sisinya. Dan aku minta maaf. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu”

“untuk apa kau bertanggung jawab? Memangnya kau ayah dari anak itu?”

Myungsoo memicingkan matanya. Tidak mengerti apa maksud Sulli.

“apa maksudmu?”

Sulli tersenyum licik, dan menatap Myungsoo dengan amarah “oppa, kau tidak curiga ia tidur dengan namja lain? Dan anak yang dikandung itu anak dari namja itu?”

“jaga ucapanmu” Sulli menunduk mendengar bentakan Myungsoo. Ini pertama kalinya Myungsoo bersikap begini padanya.

“oppa, kau membentakku. Kau sadar akan hal itu?”

“ya, aku dalam kondisi sadar. Jangan mengatakan hal buruk tentangnya dihadapanku lagi” Myungsoo menatapnya tajam. Tidak menyangka jika Sulli berkata seperti itu. Suzy bahkan belum hamil. Lagipula, saat mereka melakukannya pertama kali, Myungsoo merasa telah menghancurkan(?) selaput keperawanan Suzy. Istrinya terlalu baik untuk mendapat hinaan seperti ini.

“semoga kau mendapatkan namja yang pantas untukmu. Terima kasih untuk semuanya, mianhae” Myungsoo bangkit, hendak melangkah meninggalkan Sulli, tapi yeoja itu menahannya.

“oppa~, mianhae. Tapi, tidak bisakah kau memikirkannya lagi? Kau cinta pertamaku oppa”

Myungsoo menyingkirkan tangan Sulli di pergelangan tangannya. Ia sadar, sikapnya sangar kejam. Meninggalkan sulli seperti ini.

“kau juga cinta pertamaku Sulli-ah, tapi Suzy adalah masa depan, dan cinta terakhirku” tepat setelah itu, Myungsoo berjalan ke arah pintu cafe.

Sulli menunduk, dan menangis dalam diam. Ia rasa seperti orang tidak berguna lagi kerena Myungsoo melepaskannya pergi. Ia tidak ingin pergi dalam hidup Myungsoo, ia ingin menjadi tempat sandaran Myungsoo. Dirinya, bukan perempuan itu.

Ia yakin, itu bukan anak Myungsoo. Tidak Mungkin Myungsoo melakukannya pada yeoja itu. dasar perempuan nakal. Perempuan nakal yang telah merebut Myungsoo dari pelukkannya.

Minjun bangkit dari kursinya. Ia mendegar semuanya. Sejak ia melihat Myungsoo masuk ke kafe ini dan berjalan ke arah Sulli, ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Dan ia berganti duduk, memungunggi sulli. Myungsoo dapat melihat punggung Minjun, dan mengenali adiknya dengan cepat, tapi pikiran Myungsoo sedang tidak ingin menatap orang lain.

“Rupanya begitu, jadi selama ini hyungnya itu masih berhubungan dengan sulli noona. Tsk” gumamnya pelan dan berjalan medekati Sulli.

Diduduki kursi yang sebelumnya di tempati oleh Myungsoo itu.

“oppa?” Sulli mendongak. Ia kira Myungsoo kembali padanya. Ternyata..

“aku bukan oppa. Untuk apa Hyung bertemu dengan noona?” Sulli melengos, mengalihkan tatapannya dari Minjun.

“bukan urusan anak kecil sepertimu”

“tentu saja menjadi urusanku jika bersangkutan dengan Suzy noona” Walaupun Myungsoo sudah membela Suzy tadi, rasanya tidak benar jika bukan ia yang membela suzy. Noona kesayangannya.

“tsk.. kau menyukai Suzy? Perempuan nakal itu”

“kau yang nakal. Sewaktu kau tahu hyung sudah mempunyai istri. Seharusnya kau menjauh. Kau yang menganggu hyungku”

“mempunyai istri? Maksudmu istri dari pernikahan kontrak mereka? Pernikahan mereka itu palsu” baik, ia tidak tahu tentang yang satu ini. Dasar hyung, Minjun mengumpat dalam hati.

“ahh itu? tapi noona sekarang sudah hamil, bukan? Sepertinya pernikahan kontrak itu sudah batal.”

“tidak akan kubiarkan”

“dan tidak akan kubiarkan kau menganggu noonaku. Dan aku yakin, hyung juga berfikiran sama. Suzy noona adalah masa depannya, sedangkan kau hanya masa lalunya” Minjun bangkit, dan melambaikan tangan pada temannya, pertanda ia akan pulang.

“Sekarang tinggal balas dendam pada hyung”

******

Suzy mengepak baju-baju untuk 5 hari kedepan. Minjun baru saja menelfon jika mereka akan berangkat ke Gwangju siang ini juga. Minjun memintanya untuk datang ke rumah umma, Dan berangkat bersamanya.

Suzy juga lupa bilang pada Myungsoo tentang pertandingan final basket Minjun ini. Ia berencana menelfon Myungsoo setelah sampai rumah umma. Sekarang ia terlalu sibuk dengan kopernya.

Setelah memastikan semuanya siap. Ia menghampiri taxi yang telah menunggu di depan rumahnya. Setidaknya ia telah menyiapkan makan siang yang diminta oleh Myungsoo.

******

“kenapa mendadak sekali?” umma memebatu Minjun mengepak baju-bajunya ke dalam ransel. Makan ringan selama perjalan sudah siapa daritadi. Dan Suzy juga sudah sampai. Sedang bergurau bersama appa di ruang keluarga.

“aku juga tidak tahu. Pelatih berkata seperti itu”

“arasso. Cepat-cepat. Kau sudah telat” Minjun menjinjing ranselnya, dan berputar menghadap umma yang berdiri di belakangnya.

“ahh.. umma, Suzy noona belum bilang ke hyung. Tolong sampaikan, ne? Noona bersamaku ke Busan untuk final basket”

“busan? Baiklah, cepat”

Minjun membuka pintu mobilnya, menatap kedua orang tuanya dengan senyum lebar “do’akan akuuuuu”

“hati-hati menyetirnya”

“Gwangju… we’re coming”

*******

Myungsoo memarkir mobilnya di halaman rumahnya. Biasanya Suzy menyambutnya di teras rumah. Kemana dia? Myungsoo membuka pintu rumah, dan tidak menemukan keberandaan Suzy di ruang tamu. Keningnya berkerut, ia merasakan kejanggalan. Dengan langkah perlahan, Myungsoo berjalan ke arah dapur.

Ia hanya menemukan beberapa macam masakan dan masih hangat di meja makan. Ditatapnya semua makanan itu. Myungsoo melanjutkan jalannya ke kamar mereka. Kosong. Dengan alis berkerut ia berbalik berjalan lagi ke arah meja makan, menatap semua masakan Suzy untuknya.

“ahhh, suzy pasti ke rumah umma. Nanti malam saja aku ke sana. Punggungku, arrggh” Myungsoo duduk di meja makan, dan mulai memakan hidangan untuknya dengan senang. Enak, seperti biasanya.

Wajah sulli yang menunduk sedih terlintas begitu saja dalam pikirannya. Jika ditanya apakah ia telah melupakan Sulli atau tidak, ia akui, kenangan-kenangan indah bersama gadis itu tidak ingin ia lupakan. Seperti sebuah kutipan remaja-remaja sekarang ini ‘terlalu manis untuk dilupakan’

Kenangan yang mereka bangun selama bertahun-tahun. Bukan dalam hitungan hari atau jam. Banyak hal-hal indah yang telah ia lalui bersama gadis itu. kebersamaan dalam tawa maupun duka. Walaupun ia tidak bersama dengan gadis itu lagi, tapi kenangan-kenangan indah itu selalu ada di ingatannya.

Iya tahu, ia salah. Memberikan gadis itu harapan, dan menghentikan harapan itu begitu saja. Ia juga paham benar bahwa gadis itu bertumpu pada harapan yang ia beri. Dan ia yakin, walaupun ia telah mengakhiri hubungan mereka, gadis itu masih akan bergantung pada harapan itu. walaupun nilai keakuratannya hanya satu persen.

Ia ingin Sulli menemukan seorang namja yang lebih baik darinya, yang dapat menjaganya, dan juga menyayanginya sepenuh hati. Dan membuat kenangan baru dengan namja itu. sama halnya seperti Myungsoo. Ia akan membuat membuat lembaran file baru yang berisi hal-hal indah yang akan diisinya dengan keluarga barunya itu.

Cinta pertamanya diawali dengan S, dan diakhiri dengan S. Semudah itu.

*****

“noona… aku telah meminta umma agar memberitahu Myungsoo hyung kalau kau bersamaku” Minjun merapatkan jaket tebalnya. Salju mulai turun malam ini. walaupun suhu dibawah nol itu, tidak membuat mereka meninggalkan baklon hotel.

Suzy medongak menatap Minjun, dan menhilangankan perhatiannya pada kartun yang ia bawa. “jinja? Gomawo” sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang indah dalam gelap.

Suzy, Minjun, dan tim basketnya sedang berkumpul di balkon hotel. Sekedar bermain kartu, meminum coklat panas, dan bercanda bersama. Tidak sedikit teman Minjun yang mencoba mendekati Suzy, walaupun telah mendapat peringatan tajam dari Minjun sewaktu mereka tiba di Gwangju.

“waee? Besok terakhir kalinya kita bertemu dengan Suzy noona. Bisakah kau memberi kita keringanan sedikit. Anggap saja melihat wajah dan senyum cantik seperti itu dapat menambah semangat bermain kita” alasan yang dikeluarkan temannya membuat Minjun diam. Baiklkah, lagipula suzy noona tidak Mungkin suka pada mereka.

Minjun hanya mengangguk sambil menatap coklat panasnya dan menggenggam erat ponselnya. Ia sedang menunggu telfon dari seseorang. Sampai kapan? ‘Dasar hyung’ gumamnya.

******

Myungsoo telah mengetuk pintu rumah lebih dari lima kali. Tidak ada satu suara yang menyahut.

“umma.. cepatlah. Di luar dingin” keluh Myungsoo setangah berteriak. Jaket tipisnya tidak membantu. Digosokkan kedua telapak tangannya mengumpulkan kehangatan.

“Suzy? Minjunie ?” ia kembali mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat itu. pukul 11.30, ayolah, ia tahu Minjun selalu tidur pukul setengah satu. “aishh.. membunuhku secara perlahan” gumamnya pelan bersamaan dengan uap putih yang keluar dari mulutnya.

“ummmaa.. diluar ding—“ ucapannya terhenti ketika pintu yang diketuknya terbuka lebar. Dan nampaklah sosok manusia dengan wajah ditutupi masket dan dia mentimun sebagai penutup mata.

“umma, bagaimana caranya membuka pintu tanpa melihat seperti itu?” Myungsoo melangkahkan kakinya masuk dan mengambi dua mentimun dari wajah ummanya.

“untuk apa datang malam-malam begini?” bukannya menjawab pertanyaan Myungsoo, ummanya itu melemparkan tatapan jengkel. Mimpi indahnya berduaan dengan raja kampus sewaktu ia menjadi mahasiswa hilang sudah.

“ahh.. Suzy? Dimana dia? Aku kesini untuk menjemputnya”

Wanita yang berumur sekitar 40tahun itu menguap pelan dan memandang Myungsoo dengan tenang “Kim Myungsoo, kau bahkan tidak pernah ke pulang ke rumah setelah menikah? Mwoyaaa?”

“ahh, mian. Kantor sangat sibuk umma. Dimana dia?”

“suzy? Dengan Minjun. Mungkin tidur. Kau tahu sekarang pukul berapa? Hah!”

“mwo? Tidur dengan Minjun? Umma.. mwoya? Kenapa membiarkannya? Ini tidak benar” Myungsoo sedikit berlari meninggalkan ummanya, dan menuju kamar Minjun yang ada di lantai dua.

“kenapa kamarnya kosong?” suara Myungsoo yang terdengar di penjuru rumah membuat mata ummanya kembali terbuka.

“ahh.. mereka di busan” jawabnya setengah teriak.

Busan? Myungsoo mengerutkan keningannya, memiringkan kepalanya dan bibirnya sedikit terbuka “busan? Mereka di busan?” dengan cepat, Myungsoo turun dari tangga dan menghampiri ummanya yang berbaring di sofa.

“untuk apa mereka ke busan?” tanya dengan cepat, dan memandang ummanya dengan pandangan menuntut jawaban yang lengkap. Fakta bahwa Suzy dan Minjun bermalam di busan dengan kemungkinan sedang tidur sangat menganggu pikirannya. Ya tuhan, adiknya sendiri.

*******

Sebelum mobil Myungsoo meninggalkan rumah, suara ummanya yang terbilang nyaring membuat kegiatannya berhenti begitu saja.

“waeyo umma? Aku sedang terburu-buru” sebuah jitakan pelan mendarat di kepala Myungsoo dengan indahnya.

“pakailah jaket tebal adikmu. Salju mulai turun. Kau yakin mau ke Busan sekarang? Dengan celana selutut dan jaket tipis itu?” ucapnya umma Myungsoo seraya menyodorkan jaket tebal yang khusus dipakai saat musim salju tiba.

“ya” suaranya parau. Tidak lagi terdengar ramah. Hari ini ia bahkan tidak melihat suzy. Gadis itu sibuk membersihkan dapur ketika ia berangkat. Bahkan ia memakai dasinya itu sendiri.

“baiklah, hati-hati. Lebih baik menepi jika mengantuk”

*******

Tangan Minjun yang bebas, ia jejalkan pada saku celananya. Sedangkan tangan satunya lagi ia gunakkan untuk menopang ponselnya.

Ia menunduk dan diam mendengarkan orang disebrang sana memarahinya tidak jelas. Suara orang itu semakin meninggi.

“ne hyung. Noona bersamaku” dan ocehan hyungnya itu tidak kunjung mereda.

“hyung—“ Minjun mencoba memotong ucapan hyungnya “semua temanku tertarik pada noona. Dan mecoba mendekati noona. Seperti berjalan di samping noona. Membuatkan noona coklat panas. Membiarkan noona menang dalam latihan basket, memaksa agar noona memakan ramen buatan mereka. Noona seperti ratu di sini hyung. Dan mereka bilang noona sangat cantik dan sexy” ia menarik nafas pelan “Hyung, mian aku tidak bisa membantu. Aku kalah orang di sini. Mereka terlalu banyak”

Tut…

Dengan cepat, Minjun mengakhiri hubungan setelah ia mengatakan semuanna itu. sepertinya besok ia akan dimakan hidup-hidup oleh hyungnya itu.

Setidaknya ia tahu sifat hyungnya yang paling tidak disukainya itu.  Hyungnya tidak akan melepaskan sesuatu yang ia sayangi jika appa tidak memintanya.

*******

Myungsoo melepas jaket tebal Minjun yang baru saja dipakainya. Dingin salju menguap begitu saja, seketika menjadi panas. Sialan. Adiknya itu tidak membantu sama sekali. Sekarang bukan lagi dongsaengnya, tapi teman-teman dongsaengnya.

Myungsoo kembali mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang. Dengan suasana dan pikiran kacau seperti ini kecepetan penuh bukan solusi yang baik.

*******

Pukul 3AM. Myungsoo baru saja tiba di Busan. Ia menepikan mobilnya dan mencari ponselnya. Mendial panggilan cepat nomor 3. Minjun.

Deringan pertaman…. kedua… ketiga.. keempat… Myungsoo memutuskan sambungan dan kembali menelfon adiknya itu.

Begitu seterusnya. Sudah ia coba 6 kali, begitu juga dengan ponsel Suzy. Ia menyandarkan punggungnya di punggung kursinya. Matanya terpejam, sedangkan otaknya berkerja keras mencari solusi.

Myungsoo berulang kali menghembuskan nafas berat seraya jemarinya tidak berhenti memijat keningnya. Lelah.

Ah.. benar juga. Myungsoo menegakkan punggungnya, dan menelusuri keunggulan ponselnya. Setelah kejadia itu, sewaktu Suzy pulang malam di antar Minjun, yang membuatnya berkeliaran malam-malam. Keesokkan harinya ia meminta Suzy untuk selalu mengafktifkan GPSnya.

Matanya terbelalak ketika melihat peta yang menampilkan keberadaan Suzy. Myungsoo kembali menyandarkan punggungnya ke kursi dan menutup mata. Terlalu lelah.

“kenapa mereka ada di Gwangju?? Arrrghhh” teriaknya di dalam mobil di tengah malam. ia bahkan tidak tidur. Hampir.

“terlalu lelah” selelah apapun itu, ia tetap berputar arah ke Gwangju.

*******

Myungsoo membuka pintu mobilnya dan menguap pelan menatap hotel sederhana yang ada di hadapannya. Ia memandang ke lobby hotel yang ramai dengan sekumpulan murid SMA yang membawa bola basket. Dan ia dapat melihat istrinya tertawa lebar sambil memukul lengan namja yang baru saja mengatakan sesuatu.

Dengan langkah lebar yang pasti, Myungsoo menuju ke lobby hotel tanpa melepaskan pandangannya dari Suzy. Minjun menganti pandangannya dari Suzy ke Myungsoo. Begitu terus, hingga Myungsoo menginjakkan kakinya ke lobby hotel. Senyum kecil yang puas itu terpasang di wajahnya.

“oppa?” mata Suzy terbelalak melihat Myungsoo yang berjalan ke arahnya. Pusat perhatiannya tertuju pada namja itu. dengan rambut sedikit berantakan, mata yang nampak lelah itu menatapnya tajam, dan celana pendek selutut berwarna hitam yang dipadukan dengan jaket hitam dengan salah satu lengan ditarik hingga siku sehingga menunjukkan otot tangan yang disukainya itu.

“kau tahu? Aku tidak tidur semalaman kare—“

Suzy memotong ucapan Myungsoo dengan nada bingung “tidak tidur semalaman? Wae?”

Myungsoo menatap Suzy sebentar dan menghembuskan nafasnya pelan. Benar-benar.

“Hyung.. lebih baik kau mandi saja, Sementara aku dan yang lain akan sarapan terlebih dahulu. Ini kunci kamarku. Aku juga membawa baju untuk hyung. Seperti yang diperkirakan” Minjun menyerahkan kunci kamarnya, dan berbalik.

“kau..” ia ingin berjalan ke arah Minjun, tetap suzy menarik lengannya dan menggeretkan ke kamar Minjun,.

“kkaja oppa..”

Suzy duduk di tepi kasur menyiapkan pakaian untuk Myungsoo sedangkan Myungsoo berbaring di sebelah Suzy. Melingkarkan salah satun lengannya di pinggul Suzy. Sedangkan lengan yang lain bermain dengan ponselnya.

“oppa cepat mandi.. ppali” Suzy melepaskan lengan Myungsoo dan mendorong suaminya itu ke kamar mandi.

“ara” Myungsoo berjalan ke arah kamar mandi dengan baju yang dibawa Minjun. “bagaimana bajuku ada padanya? Ahh.. lemariku yang di kamar”

Selama 30 menit Suzy menunggu Myungsoo mandi. Minjun baru saja menelfonnya jika ia dan timnya akan ke gedung terlebih dahulu. Suzy akan menyusul dengan Myungsoo.

“oppaaa~ ppali” Suzy menunduk untuk melihat jam tangannya. “aigoo.. berapa lama lagi?” Suzy bangkit dan berjalan ke arah kaca yang menampilkan sebangian tubuhnya. ia mendekatkan wajahnya ke kaca itu, dan menatap make up tipis yang ia gunakan.

Disibakkan rambutnya ke salah satu sisi, sehingga menampilkan lehernya yang putih itu. ia merasa aura cantiknya keluar jika seperti ini. Suzy tersenyum melihat dirinya di cermin.

Myungsoo keluar dari kamar mandi, dan melihat ke arah Suzy yang sedang menyibakkan rambutnya ke salah satu sisi. Ia melemparkan handuk yang dipakai dan memeluk Suzy dengan erat. Ia dapat mecium aroma khas Suzy dari dekat.

“oppa.. kkaja” Szuy berbalik cepat ketika Myungsoo mulai mencium lehernya pelan. Myungsoo heran, tetapi diam dan berjalan mengikuti Suzy.

Suzy baru saja menghempakan dirinya di kursi yang ada di sebelah Myungsoo ketika ponselnya berbunyi “oh? Dongjun? Waeyo?” Suzy tertawa pelan dan membuat Myungsoo menatapnya heran “ne, noona sudah ada di mobil. Baru saja duduk. Fighting, ne?”

“siapa itu? Dongjun?” Myungsoo langsung menatapnya begitu Suzy menjauhkan ponsel dari telingganya. Tidak ada senyum di wajahnya yang ‘dingin’ itu.

“ahh.. dia teman Minjun. Oppa.. coklat panas dan ramen buatannya sangat enak” Suzy terus bercerita mengenai teman-teman Minjun yang aneh dan lucu. Tidak memperhatikan wajah Myungsoo yang berubah drastis. Tidak ada senyum di sana. Mata maupun bibirnya.

“oppa.. kau mendengarkanku?”

“Suzy, bisakah kau diam? Aku sedang fokus menyetir” ucap Myungsoo tanpa menatap Suzy. Pandangannya lurus ke depan.

“oppa.. kau tidak cemburu dengan anak SMA,kan?”

“untuk apa aku cemburu dengan mereka? Sudahlah, aku sedang fokus” Suzy mendengus dan memalingkan wajahnya ke jendela luar. Ponselnya berdering lagi?

“ahh.. Dongjunie~~.. waeyo?” Suzy merubah Suaranya seimut yang ia bisa. Ia mencoba beragyo dari suaranya. Ditambah dengan sapaan ‘Dongjunie’. Myungsoo merebut ponsel itu dengan sekali gerakan.

“yeoboseyo? Yeoboseyo? Nuguyaaa?” suara tawa Suzy membuat Myungsoo memalingkan wajahnya, dan menatap yeoja itu.

“oppa, itu hanya alarm. Aigooo.. kau benar-benar cemburu dengan murid SMA?” Myungsoo mendengus pelan. Menepikan mobilnya.

Tangannya menarik lengan Suzy agar lebih dekat dengannya. “keure?” Myungsoo menangkup wajah Suzy, mendekatkan wajahnya dan mulai menutup matanya perlahan.

“oppa.. nanti ada yang lihat” Dengan satu gerakan pelan, Myungsoo menyalakan tombol agar air keluar dari depan layar(?) mobil, sehingga terlihat buram dari luar.

“masalah sudah tertanggani,bukan?” tanpa menunggu balasan dari Suzy, Myungsoo mendekatkan wajahnya lagi, dan mulai mencium bibir Suzy dengan lembut, dan dengan cepat berubah menjadi panas. Dan Suzy harus berusaha mengimbangi tingkat kecepatan dari ciuman Myungsoo.

“opp… oppah.. kit.. kitha haruss kee pertandingaan Minjun.. pppaliiii” Suzy berusaha medorong Myungsoo.

“ahh… molla. Lebih baik kita kembali ke hotel lagi saja”

“OPPA!!”

*******

From     : Minjun

Hyung.. aku kemaren mendengar semua pembicaraanmu denga Sulli noona di cafe. Cepat musnahkan surat kontrak itu sebelum umma dan appa tahu. Dan ini balasan dariku untukmu hyung

 

                “oppa cepat mandi.. ppali” Suzy melepaskan lengan Myungsoo dan mendorong suaminya itu ke kamar mandi.

“ara” Myungsoo berjalan ke arah kamar mandi dengan baju yang dibawa Minjun.

-THE END-

Akhirnya ini FF ancur selese juga. lega rasanya. berarti tinggal marriage ya? *hening* leave comment pleaseeee.. ini chap trakhir, dan bagi silent readers. kudu wajib komen. niatnya chap ini mau di protect, gomawoooo ^.^

93 thoughts on “On the paper *part 3* FINAL

  1. first kah?yey aku suka ff mu thor….kkkk myungzy couple kn endingnya..bgus bgt ampe ktawa sendiri bacanya.bkin lg y thor…kamsamida ^^

  2. Gosh.
    Perfect.
    FF ini bebas kritikan!!❤
    Just there'is applaus and punishment to nandaa~
    *saran buat readers lain* :
    baca ff ini smbil dger lgu na shinee~kiss kiss kiss(japan version) bisa bkin senyum"sendiri😀

    fine,sekarang tinggal marriage yah🙂

  3. Gosh.
    Perfect.
    FF ini bebas kritikan!!❤
    Just there'is applaus and punishment to nandaa~
    *saran buat readers lain* :
    baca ff ini smbil dger lgu na shinee~kiss kiss kiss(japan version) bisa bkin senyum"sendiri😀

    setia menunggu marriage🙂

  4. Akhirnya di post juga ni ff🙂
    Seneng banget, ternyata Myungsoo menyadari kalo Suzy lah masa depannya dan melupakan masa lalu nya🙂
    Jiah Myungsoo cemburu sama anak SMA haha😀
    Suzy emang banyak fanboy nya.
    Daebak thor.
    Ditunggu ff selanjutnya🙂

  5. hah, lega deh akhirnya mereka happy end…
    untungmyugso dengan cepat memutuskan sulli…
    minjun, km memang kerennn…
    kekekekeke

  6. Author daabbaaakkk!!!!
    Aku seneng banget sama ending-nya ini!
    Ini ff pertama yang kubaca hari ini. It really is make my day!!!
    Myungzy! Myungzy! Myungzy….!🙂
    Thanks alot ya auhtor, ditunggu ff keren selanjutnya (tapi tetep utamakan sekolah ya..) Fighting!

  7. aaaaaahhhh… akhirnya kurang sreg akuuu…
    bikin sequel nya bisa kali ya thor??
    akhirnya kurang panjang.. harusnya *sok tau nya mulai muncul* suzy nya samp[e hamil atau sampe urusan surat kontrak nya selesai..

  8. Kirain jadi mau bikin sad ending,udah was2 lho… Tapi ternyata Happy ending,cihuiii…
    Konfliknya ringan, i like it
    oh iya, ditunggu Marriage nya lho…#pasang puppy eyes yg gk mempan sama sekali😄

  9. Ah myung km kok jd evil gt hihi..tp suka..akhirny happy end sma suzy..tp endingny kurang puas chingu :D…ayoo bikin ff yg keren2 lg🙂

  10. akhirnya ini dipost jga and gomawo g jdi nge protect ni ff chingu kekekekek
    aigoo myungso bisa2nya cemburu maanak SMA, ma adix nya jga sempet2nya cemburu kekekek
    knp udh end, apa suzy hamil kekekek
    ditunggu ff yg lain chingu😀

  11. Daebak thor tpi endingx msih agak ngegantung gtu. Kan msalah surat kontrakx jga belum selesai????
    Suzy jga blum hamil. Bikin sequel dong thor????? pliiiiiiiiiiiiiiissssssssss

    #pasang aegeyo# Hihiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii🙂

  12. DAEBAKKKK thor,,,,
    yey akhir’y myungsoo lbh milih suzy ,,tp end’y msh nggantung low bsa dbkin squel’y donk thor jebALLLL.,,,,,,,,,,,,^^
    MYUNGZY JJANG,,^^

  13. DAEBAKKKK thor,,,,
    yey akhir’y myungsoo lbh milih suzy ,,tp end’y msh nggantung low bsa dbkin squel’y donk #Plakkk,,,,,,,,,,,,^^
    gk tau knapa ff MYUNGZY ^^ yg mariagelife feel’y kna bgt
    dtnggu ff myungzy lain’y,,^^

  14. Yeeeyy…good choice Myungie🙂
    Finally Myungie ninggalin masa lalunya n mulai kisah yg baru bareng Suzy ^^
    Ckck..Myung cemburu ma adknya sendiri😛
    Ada sequelkah? MyungZy punya aegy gitu😀
    Good job, daebak chingu dari part 1 sampai end sukses buat kesel, sedih, senang n senyum” gaje baca ni ff😀
    Keep fighting n keep wtiting ^,^

  15. Bwahahahahahahahahahahaha
    minjun benar2 anak yg berbakti..wkwkwkwk
    so sweet dah..
    DAEBAK SANGAT..kehabisan kata2..

  16. Yaaa akhirnya happy ending horeeee… aku sukaaa.. bget sama ceritanya feel nya juga dapet pas part 2 kerasa bgett hehe

    Daebakk…

    2

  17. Ending nya gak jelas thorr, bikin sequelnya dong.. Minjun menang basketnya, suzy hamil, trus sulli dapat namja yang lain..😉
    pasti daebakk.. Tp aku suka FF nya, bahasanya ringan, banyak konflik tapi tetap romantis..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s