On the paper *part 1*

On the paperTitle : On the paper
Author : A.Y.P
Genre : Sad, Romance, Marriedlife
Length : Chapter (short chapter)Main Cast :
* Bae Suzy ( MISS A )
* Kim Myungsoo ( INFINITE )

Annyeonnngg~ balik lagi dengan MYUNGZY. ga tahan kalo castnya bukan mereka -____- ngeship-nya aku uda akut nih -.- happy reading… RCL ya ^.^

Author’s POV.

Suzy duduk termenung di depan kolam ikan yang tersedia di rumahnya itu. Rumah bersama dengan seorang namja. Seorang namja yang empat bulan terakhir ini tinggal dengannya, berbagi kamar mandi dengannya, berbagi makanan dengannya, dan juga berbagi ranjang dengannya. Namja itu adalah Kim Myungsoo.

Ia menghela nafasnya dan menyandarkan tubuhnya di punggung bangku. Lelah. Lelah dengan hidup yang ia jalani, lelah dengan orang orang di sekelilingnya, lelah dengan dirinya sendiri yang hanya diam dan menerima perintah, dan lelah dengan semua ke bohongan di hidupnya. Ia ingin mengakhiri beban yang ia pikul, hanya saja ia tidak tahu bagaimana. Dari titik mana ia harus merubah hidupnya?

Merasa bersalah, adanya orang yang tersakiti, dan ada juga yang di rugikan hanya untuk sebuah kepalsuan. Kepalsuan yang didasari dengan keegoisan semata. Jadi, untuk mengakhiri ini semua, apa yang harus ia lakukan? Ada pihak yang bahagia atas kepalsuan ini dan juga ada pihak yang tersiksa.

Terkadang ia bahagia dengan pernikahan ini, dan juga merasa lelah. Senang karena dapat melihat dirinya saat ia terbangun, saat makan bersama, saat berkumpul di ruang keluarga seraya mengerjakan tugas dari kantor, dan yang paling terpenting, saat ia berada di sisi namja itu. Kim Myungsoo.

Ia menginginkan satu hal lagi. Lima huruf yang sangat ajaib, lima huruf untuk memiliki dirinya seutuhnya, lima huruf yang tidak pernah ia rasakan, kecuali dengan Kim Myungsoo, dan lima huruf yang tidak bisa diberikan Myungsoo. Lima huruf itu adalah cinta. Bisakah ia mendapatakan lima kata itu secara tulus tanpa paksaan ?

Iya, ia tersiksa dengan hidup seperti ini. Walaupun setiap hari ia menyiapkan semua keperluan suaminya, tapi tetap saja. Tidak ada perlakuan romantis, tidak ada kalimat pujian yang biasa didapatkan seorang istri dari suaminya, tidak ada kecupan manis di dahi, Hanya sikap dingin dan beberapa kalimat formal.

“aku berangkat sekarang. Hati hati di jalan”
“aku akan pulang telat”
“umma menanyakan kabarmu”
“aku ingin tidur terlebih dahulu”
“makan saja terlebih dahulu”

Ia seharusnya berterima kasih karena dapat melihatnya, dapat mendengar suaranya, dan menjadi bagian dalam kehidupannya. Ya benar. Ia harus. Berterima kasih akan hal itu. Sudah empat bulan bukan? Berarti ia masih memiliki 8 bulan lagi. Lebih baik ia menikmati waktu itu sebaik mungkin.

Kerena secara perlahan, entah bagaimana, dan kapan ia mulai jatuh cinta pada Kim Myungsoo.

**************

Myungsoo merenggangkan dasinya dan menghela nafas berat. Lelah, dan penat. Bukan karena pekerjaannya yang menggunung, bukan juga karena orang tuanya yang terus bertanya kapan mereka mendapatkan cucu. Bukan, hal yang selalu ia pikirkan adalah hidup yang empat selama ini ia jalani.

Bae Suzy, nama yeoja itu terus terlintas dipikirannya. Rasa penasaran akan pemikiran yeoja itu menganggu kerjaannya. Ketika ia bangun di pagi hari tidak mendapati sosok istrinya di samping, ketika ia selesai mandi tidak ada setelan pakaian lengkap dengan dasi di atas kasur seperti biasanya, dan juga tidak ada sarapan untuk dirinya. Ia terbiasa memakan masakan eksperimen dari suzy. Yeoja itu selalu berkreasi dengan makanan, jika makanan itu tidak sesuai harapannya ia tidak akan menyiapkan makanan itu untuk Myungsoo.

Beberapa kali, setelah pulang dari kantor ia mendapati piring yang ada di dapur dengan sendok terletak di bibir piring. Fakta jika Suzy mencoba memberikan yang terbaik untuk dirinya membuat ia merasa bahagia. She did her best.

Ia merasa bersalah pada yeoja itu Bagaimanapun ia yang memaksa agar yeoja itu menikahinya. Kehidupan susah yang dijalani yeoja itu ia jadikan alasan agar mereka menikah. Jika orang taunya tidak memikirkan gengsi, maka ia tidak membuat hidup yeoja itu berantakan. Ia salah, tetapi ia tidak tahu harus melakukan apa? Minta maaf ? Melanjutkan atau mengakhiri hubungan ini?

Sulli, yeoja yang selama 2 tahun ini membuat hari-harinya berwarna, membuatnya tersenyum, dan membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya, tetapi ia membuat yeoja yang ia sayangi menangis dalam diam. Dan ia hanya diam tanpa menatap sulli seakan tidak melihat dan mendengar apapun.

Ia merindukan yeojanya itu. Baiklah, kurang delapan bulan lagi,bukan ? Ia hanya perlu bersadar. Oh god, ini sangat menyiksa.

Kenapa keluarga Sulli dan dirinya harus menjadi pesaing bisnis? Kenapa todak bersatu? Bukankah itu lebih baik untuk perkembangan bisnis mereka?

Bagaimana keadaan yeojanya itu? Masih menangis? Lebih baik ia menemuinya sekarang, toh tugasnya hari ini telah selesai.

Myungsoo bangkit dari kursi nyamannya, dan mengambil kontak mobil. Dan hilang begitu saja dalam hitungan detik.

*************
“aku merindukannya. Sudah 4 hari ini dia tidak datang. Apakah ia mulai jatuh cinta pada istrinya?” suara getir yang keluar dari bibir yang bergetar.

Matanya sembab, rambutnya berantakan, dan ia masih mengenakan piyama semalam. Diseret kakinya menuju dapur kecil di apartmentnya, ia sempat melirik kearah jam weker di samping rankangnya. 10.00. Lebih baik ia mandi.

Ia menuju kamar mandi, diputarnya keran shower dan seketika itu pula, titik titik air yang lembut membasahi permukaan kulitnya. Semakin lama air yang keluar semakin deras, bercampur dengan air matanya yang baru saja keluar.

Menempelkan badannya di dinding dan perlahan jatuh terduduk memeluk kedua lututnya. Diletakkan dagunya di antara lututnya yang mempunyai jarak kecil.

“sudah 4 bulan ? Dan aku baru mengetahuinya satu minggu yanga lalu? Kenapa tidak ada yang memberi tahuku selama di amerika?” ujarnya lirih.

Untuk menenangkan pikiran dari pertentangan hubungannya dengan Myungsoo, Sulli berlibur ke amerika dan kembali mengetahui namjachingunya telah menikah. Ia tahu diberi tahu kai, temannya sekaligus Myungsoo.

Ia ingin marah pada lak-laki itu, memukulnya, menendang, apapun itu agar namja itu mengerti bagaimana sakit yang ia rasakan. Tetapi namja itu datang dan menjelaskan semua dengan tenang. Menahan tangan Sullivyang ingin memukulnya, dan merengguhnya dalam pelukan yang tenang.

“jangan menangis. Tunggulah. Tidak lebih dari 9 bulan lagi” ucapan Myungsoo saat itu membuatnya bingung. Apanya yang sembilan bulan?

Tentu saja, pernikahan kontrak Myungsoo dengan istrinya, Bae Suzy. Ia tidak tahu bagaimana paras suzy itu, dan ia tidak mau tahu. Ia yakin, Myungsoo akan memilihnya daripada Suzy itu.

Awalnya ia terkejut dengan kenyataan itu. Ia tidak habis pikir apa yang Myungsoo pikirkan saat itu. Menenangkan orang tuanya? Lalu bagaimana selanjutnya? Setelah kontrak selama satu tahun itu berakhir? Ia akan kembali dalam pelukan Myungsoo,bukan? Myungsoo akan kembali padanyakan ? Dari awal Myungsoo adalah miliknya, selamanya.

Selagi masih ada kesempatan, ia tidak akan menyerah. Ia akan berjuang untuk kebahagiaanya dan juga Myungsoo. Iya, ia memang egois. Dan ia tidak bisa berhenti.

Dan selama 8 bulan ini, ia tidak akan memberikan gadis itu melakukan hal bodoh yang dapat merebut hati Myungsoo darinya. Ia akan membuat Myungsoo seharian penuh bersamanya. Setiap hari selama 8 bulan. Ia tidak peduli.

Lagipula yang yeoja itu perlukan hanya uang,bukan? Ada tidaknya Myungsoo tidak penting, bukan ?

***************
Sulli telah menyelesaikan makannya. Ia sedang duduk seraya membaca buku sesekali melirik handphone-nya. Namja itu belum menghubunginya seharian ini. Atau ia sedang bersama istrinya. Tidak mungkin.

“sulli?” terdengar suara namjanya itu. Ia menoleh dan mendapati namja yang ia rinduka tengah berdiri di hadapannya. Akhirnya… Kenapa lama sekali.

“aku merindukanmu” ucap Sulli lirih dan berlarih ke arah Myungsoo. Mengecup bibir namja itu singkat. Myungsoo sedikit kaget dengan sikap Sulli yang seperti ini, tai ia tidak ambil pusing. Ia juga merindukan yeojanya ini.

“aku ingin kita pergi. Pergi ke suatu tempat. Aku bosan di apartement ini terus” lengan yeoja itu bergelayutan manja di lengan yang ia peluk.

“baiklah. Kau ingin ke mana ?”

“jinja? Ahhh senangnya..”

Myungsoo mengeluarkan ponselnya, dan mengetikan sesuatu, setelah selesai. Ia masukkan ponsel itu kembali ke saku jasnya.

*****************

Ponsel Suzy berbunyi, diangkatnya ponsel itu sejajar dengan matanya. “myungsoo” gumamnya.

‘aku akan pulang telat. Makanlah terlebih dahulu’ suara Suzy tersengar pelan, dibacanya pesan ia berulang kali. Sepertinya ia tidak perlu memasaka hari ini. Ia akan pergi ke rumah orang tua Myungsoo dan membantu ibu saja.

Ia bangkit dari bangku taman, dan berjalan masuk ke rumahnya. Beberapa menit kemudian, ia telah siap dengan tas kecil yang ia kenakan di pundak.

“umma, aku akan ke sana hari ini. Aku sedang bosan di rumah, umma tidak akan pergi, kan?”

“jinja? Cepat datang kemari. Umma sedang membuat masakan baru” suara seorang wanita terdengar senang. Suzy mengangguk walaupun ummanya itu tidak dapat melihat.

“ne” ia putuskan hubungan. Setelah memastika tidak ada yang tertinggal dan ia telah menutup semua pintu, ia berlari menuju taxi yang telah menunggu. Ahhh… Resep baru.

******************

“umma, suzy noona, apa yang sedang kalian masak? Cepatlah. Aku lapar” protes minjun dan terdengar suara perut yang bersuara. Umma dan suzy hanya terkekeh pelan.

Apa boleh buat? Masakan pertama mereka gosong karena appa yang datang mengajak keduanya berbiacara hingga tak sadar warna masakan yang berubah warna dan rasa.

“baiklah-baiklah. Ini. Makan yang banyak. Kau perlu latihan, bukan? Sebentar lagi pertandingan basketmu. Jaga kesehatanmu” ucap Suzy seraya meletakan masakan yang baru saja matang di atas meja.

“huh… Makanan ini seperti biasanya. Sup daging dan juga kimchi. Mana makanan barunya?” minjun terus saja protes dengan jenis makanan hingga ayah menepuk pundaknya.

“makan saja apa yang ada. Kau ini selalu saja protes. Ayo Suzy duduklah”

“ne” suzy duduk berhadapan dengan minjun. Namja itu memiliki paras yang sama seperti Myungsoo, tapi ia lebih cute. Karena ia masih siswa SMA?

“mana Myungsoo?” tanya appa tanpa memandang Suzy.

“ah.. Myungsoo mungkin lembur lagi. Daripada di rumah sendirian, lebih baik aku main ke sini saja” ucap Suzy riang yang hanya dijawab yang lain sebagai anggukan.

“sampai jam berapa noona? Jika sampai malam, nanti sore bermain basket denganku ya?” pinta minjun sedikit memohon.

“ne? Andwaeyo, noona tida membawa baju, tidak nyaman jika memakai baju basah karena keringat.”

“gwanchana, noona pinjam saja bajuku, lagipula ukuranku lebih besar daripada noona”

“baiklah kalau begitu, yang menang akan memasak untuk nanti malam”

“noona~~~ aku tidak bisa memasak”

“mudah saja, lebih baik kau mengalah nanti”

“noona~~”

“aku tidak dengar”

******************
Suzy berdiri dan menggunakan kaos dan celana selutut milik minjun. Namja ini tinggi rupanya.

Ia menyerah, sedari tadi ia hanya berlari ke satu sisi lapang, mengikuti minjun yang mendrible bola basket, entah sudah berapa kali namja itu memasukan bola ke dalam ring. Sedangkan ia? Memegang saja tidak.

“minjum-a, noona hanya berlari saja. Berikan bolanya. Noona juga ingin mencoba mencetak angka. Yaaaaaa” suzy merengek pada minjun, menarik kaos minjun agar namja itu berhenti. Dan benar dugaannya.

“berikan bolanya pada noona”

“baiklah, aku hanya memberikan satu kali kesempatan” minju menyodorkn tangannya ke arah suzy, diambilnya bola basket itu dari tanya minjun dan di remparkannya. Bukannya melayang ke arah ring, bola itu hanya melayang ke atas, dan memantul keras di hadapannya, mungkin berjarak lima kaki.

Terdengar suara tawa dari minjun. Baiklah, ia memang buruk diolaharaga.

“teruskan saja tawamu. Ingat yang menang harus memasak besok.”

“baiklah, baiklah. Aku ajarkan caranya noona.” minjum berjalan ke arah Suzy. Berdiri sedikit membungkuk untuk menyeimbangkan tinggi badannya.

“begini” tepalak tangan minjun menyentuh telapak tangan Suzy, lalu mendorong bola itu sedikit melambung ke atas. Masuk. Wow~

“wahh.. Aku ingin lagi” ucap Suzy bersemangat dan merebut bola dari tangan minjun.

“noona~ aku harus berlatih”

“bukannya kau sudah sering berlatih. Hari ini ajari noona saja ya?” ia meminta minjun dengan bantuan aegyo. Walaupun aegyonya buruk, toh minun tetap mengajari dan sedikit sedikit bergumam tidak jelas.

*********************

Pukul 12 malam.

Myungsoo memasuki rumahnya yang gelap itu. Apakah Suzy sudah tidur? Kenapa lampu ruang keluarga tidak dinyalakan? Myungsoo menyalakan lampu keluarga dan berjalan ke arah dapur, diteguknya air putih dingin, dan berjalan ke arah kamarnya.

“suzy?” Myungsoo menyalakan lampu kamar, dan mendapati kamar itu kosong. Ranjangnya pun masih berantakan. Kemana yeoja itu?

“suzy? Suzy?” ia menelusuri rumahnya, dan berakhir di taman miliknya. Ia ingat tadi pagi Suzy duduk di sini. Bangku itu kosong. Ya Tuhan, tidak pernah yeoja itu menghilang seperti ini?

Dikeluarkan ponsel dari sakunya. Tidak ada pesan dan juga panggilan. Ia juga baru sadar, Suzy tidak membalas pesannya tadi. Ditelfonnya ponsel suzy, tidak aktif? Sekarang ia harus mencari kemana?

Yeoja itu selalu berada di rumah. Atau pun jika ingin keluar ia selalu mengirim Myungsoo pesan. Kenapa yeoja itu tidak menghubunginya terlebih dahulu?

Tsk, ia lelah. Seharian penuh ini Ia bersama Sulli. Yeoja itu Meminta Myungsoo untuk menemaninya seharian penuh ini. Ia ingin menolak ajakan Sulli, tapi rasa bersalah menyelimuti hatinya. Ia tidak bisa menolak permintaan yeoja yang paling ia sayangi,kan ?

Dan ia mendapati istrinya tidak ada di rumah dengan ponselnya yang tidak aktif. Ia bahkan tidak tahu tempat yang sering didatangi Suzy. Setahunya Suzy sering ke pasar. Dan tidak mungkin ia mencari ke pasar semalam ini. Mungkin ada beberapa toko makanan di sana yang masih buka.

Myungsoo berjalan ke arah parkiran dan suara deru mobil terdengar menjauh.

Lima menit kemudian, Suzy datang dengan minjun mengantarnya. Umma memaksa Suzy untuk menginap, tapi ia menolak. Besok Myungsoo sarapan dengan apa? Mengingat ia tadi tidak menyiapkan keperluan suaminya itu.

Suzy menatap halaman parkirnya. Kosong. Kemana namja itu? Kenapa tidak pulang ? Apakah ia tidak pulang ?

Suzy mengganti pakiannya menjadi lebih santai. Ia lelah. Bermain basket selama 3 jam. Betisnya kram. Begitu juga lengannya, dan ia tidak mungkin mengatakan pada Minjun, ialah yang memaksa namja itu untuk bermain dengan dirinya.

Direbahkan badannya di ranjang yang empuk. Ahh nyamannya. Pinggungnya kaku. Dalam hitungan menit, ia telah terlelap dalam mimpinya.

2AM,

Myungsso melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia lelah. Hanpir saja ia menabrak pohon ketika ingin ke rumah umma. Karena rasa kantuk dan juga lelah menyelimuti tubuhnya,bia memutuskan kembali ke rumahnya.

Masuk ke dalam kamarnya, tidak menyadari sosok Suzy yang tertidur pulas di ranjang. Ia melepas jasnya, dan berjalan ke arah kamar mandi. Ia perlu mandi walapun ia tidak tahan untuk segera tidur.

Beberapa menit kemudian, Suzy mengerang kesakitan, dicengkram sepreinya. Kram lagi. Jelas saja, bagi orang yang tidak pernah olahraga, kram akan datang sehabis olaharaga, apalagi olahraga yang berat.

“ahhh… Sakit” ia meluruskan kaki, berharap rasa itu hilang. Tapi tetap saja. Pasrah, ia kembali menahan kram itu dengan mengigit bibir bawahanya. Dan yah… Kram itu menghilang, tetapi masih meninggalkan bekas nyeri di ototnya.

30 menit kemudian, Myungsoo berjalan ke arah ranjang dengan pakaian santai. Ia malas memakai piyama. Ia duduk di tepi ranjang dan baru menyadari Suzy sedang tidur di sampingnya. Kapan ia datang ?

Mungkin rasa lelahnya telah menututp otaknya sehingga ia tidak bisa berpikir sehat. Ia berbaring di ranjang, dan memeluk Suzy dari belakang. Walapun mereka tidur bersama, mereka tidak pernah melakukan skinship. Satu-satunya skinship saat acara pernikahan itu.

Suzy hanya diam, ia tertidur pulas hingga tidak menyadari Myungsoo memeluknya erat dan hembusan nafas segar namja itu menerpa permukaan kulit bahunya.

” kau membuatku khawatir” bisik Myungsoo.

“ahh… Ahh… Sakit” erangan Suzy terdengar lagi. Myungsoo menyerngit heran. Ia hanya memeluk yeoja ini, apanya yang sakit?

“waeyo?”

“kakiku.. K..ram” jawab suzy setengah sadar. Matanya masih terpejam dan mengeluarkan erangan lirih.

“kram? Tidak biasanya” diluruskannya kaki Suzy, dipijatnya kedua betis itu. Betisnya memang keras. Setidaknya harus dipijat untuk melemaskan otot yang tegang.

Selagi memijat kaki Suzy, ia menatap wajah yeoja yang sedang tidur pulas dengan alis berkerut menahan sakit. Bibir yeoja itu bergerak pelan, seplah sedang berbicara, tetapi tidak mengeluarkan suara apa pun. Tanpa ia sadari, ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman kecil yang tulus.

“jadi begini wajahnya ketika tidur? Lucu sekali” gumam myungsoo seraya membenarkan poni Suzy dari dahi. Diusapnya peluh keringat yang ada di pilipis Suzy. “tidurlah dengan nyenyak”

Myungsoo kembali menguap, ia telah menguap lebih dari 5 kali, walapun begitu, ia masih terus memijat betis Suzy hingga ototnya lemas. Hingga, Menurutnya betis itu tidak kaku lagi, ia berbaring di samping Suzy, dan kembali memeluk yeoja Itu. Meletakkan dagunya di pundak Suzy, lengan kirinya ia gunakan sebagai bantal, dan tangan kirinya mendarat di pinggul Suzy.

“Apa yang kau lakukan seharian ini? Kenapa tidak menyiapkan keperluanku tadi pagi? Menghilang sampai malam dengan kaki kram seperti ini ?” ucap Myungsoo lirih sebelum jatuh tertidur.

**********
Perlahan Suzy membuka matanya, sedetik kemudian ia menutup matanya lagi, menghindar dari sinar matahari menyapanya dengan hangat. Masih terpejam, ia menguap dan merileksnya otot ototnya. “sudah pa..gi” ucapnya pelan, dan ingin bangkit untuk duduk hingga ia menyadari sebuah lengan yang memeluknya dari belakang. Ia menoleh, dan terdiam untuk beberapa detik.

Myungsoo. Namja itu masih tertidur dengan mata yang terpejam dengan damai. Suzy memang suka melihat Myungsoo yang masih tertidur di pagi hari. Ya, ini kebiasaan yang tidak dapat dihilangkan, dan ia tidak mau menghilangkan kebiasaan sebagai tanda hari dalam hidupnya dimulai. Hanya saja, pagi ini berbeda dengan biasanya. Berbeda.

Sebelumnya, jika ia menoleh, ia hanya melihat punggung Myungsoo yang jauh dari sisisnya. Namja itu berbaring di tepi ranjang, sedangkan ia sisi tepi satunya lagi. Suzy harus berjalan memutur untuk dapat melihat wajah tenang Myungsoo di pagi hari.

Sekarang berbeda. Tidak ada punggung di sisi ranjang, ia tidak harus berputar, ia hanya perlu menoleh saja, dan bum.. Ia dapat melihat wajah namja yang tanpa ia sadari telah menyita perhatian dan hatinya.

Sepasang alis dihadapanya bergerak perlahan. Dengan cepat Suzy berbalik dan memejamkan matanya. Mencoba untuk bersikap tenang, walapun jantungnya berbedar keras menunggu reaksi Myungsoo.

Akankah Myungsoo memeluknya? Mengucapkan selamat pagi dengan suara paraunya, mengamati wajahnya dalam diam, seperti yang ia lakukan? Membangunkannya secara perlahan, atau berbalik, dan pergi meninggalkannya? Ia tidak ingin berharap. Sungguh, ia tahu. Harapannya hanya 1%, tapi bisakah satu persen itu mengalahkan 99%? Mustahil. Ia telah menyerahkan semua keinginannya pada satu persen itu.

Jebal…. Hanya itu satu satunya harapannya dalam 8 bulan ini.

Hening. Tidak ada suara selain hembusan nafas dari keduanya. Tidak ada pergerakan sedikitpun. Tidak, Suzy dapat mendengar suara derup jantungnya yang menggebu-gebu. Hanya itu yang ia dengar, ia sudah menekan dadanya, agara jantung itu kembali berdegup normal, tapi.. Kenapa usahanya sia-sia? Kenapa degup jantungnya semakin keras. Wae?

Nafasnya tercekat, matanya yang terpejam bergerak tidak tenang, anatara ingin melihat apa yang terjadi, atau meneruskan usahanya untuk berpura-pura tidur. Tidak.Tidak perlu, ia tidak perlu melihat. Ia dapat merasakan.

Merasakan pelukan dari lengan Myungsoo yang semakin erat. Seolah tidak ingin Suzy pergi meninggalkannya, menghilang. Memeluk Suzy dengan posesif. Seolah yeoja itu miliknya, secara hukum dan juga hati. Hanya miliknya.

Dan sekarang, setelah satu persen memenang dari 99%, tentu saja ia gembira, tapi ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Badannya kaku, tidak dapat bergerak. Ia takut, jika ia bergerak maka lengan yang memeluknya itu tidak memeluknya lagi. Ia takut Myungsoo tidak lagi memeluknya. Ia takut yang ia rasakan hanya mimpi semata.

“argh..” suara parau Myungsoo terdengar, tanpa benar benar berpikir Suzy membalikkan tubuhnya untuk menatap Myungsoo. Myungsoo juga menatapnya tanpa berkata apa-apa, mereka hanya dia dengan mikiran mereka masing masing.

“kenapa suaramu?”
“kemana kau kemarin?”

Mereka mengucapkannya secara bersamaan dan kembali membuat keduanya terdiam. Tidak ada jawaban, dan juga tidak ada penjelasan.

“apa yang kau lakukan kemarin?” tanya Myungsoo lagi. Lengannya masih melingkari pinggul Suzy, walaupun sedikit mengendur, tapi masih dengan pelukan posesifnya itu.

“kemarin?” tanya Suzy lirih dan berusaha mengingat apa yang kemarin ia lakukan. Tunggu, ia tidak dapat berpikir jernih, pikirannya tertutup oleh rasa gugupnya. Berpikirlah..

Masih menatap Suzy, lengan yang memeluk Suzy terangkat ke pipi yeoja itu. Membenarkan poni Suzy yang menutup dahinya itu. Sebuah gerakan kecil yang mengakibatkan efek yang besar bagi Suzy.

“kemarin…a..aku pergi kerumah umma”

Alis kana Myungsoo terangkat,bingung. “umma? Untuk apa?”

“hem? Ahh.. Aku sering pergi ke sana,seminggu dua atau tiga kali aku kesana. Belajar memasak, dan bermain dengan Minjun. Hanya saja tidak pernah pulang sampai malam” jelasnya. Ini pertama kalinya, ia berbicara dengan Myungsoo lebih dari 4 kata.

“begitu? Kenapa kakimu kram begitu?”

“kram? Semalam? Mungkin karena kemarin.”

“kemarin?”

“kemarin, aku dan Minjun bermain basket. Karena aku jarang olahraga… Jadi kram”

“begitu?” Lengan Myungsoo mendorongnya mendekat ke arahnya. Tidak ada penolakan dari Suzy. Badannya terlalu lemas untuk menolak, dan hatinya tidak ingin menolak. Boleh kah ia tersenyum sekarang?

“kemarin kau pulang jam berapa?” tanya Suzy lirih, tidak berani menatap Myungsoo.

“entahlah. Aku juga tidak tahu. Begitu aku pulang, keadaan rumah sepi. Kau juga tidak ada” Myungsoo terpejam, mendekap Suzy, dan meletakkan dagunya di puncak kepala Suzy.

“aku sampai rumah kau tidak ada. Jadi aku dulu yang sampai” protes Suzy, yang membuat Myungsoo tersenyuma masih dengan mata terpejam.

“itu karna,aku pergi mencarimu” hening. Suzy tidak percaya yang ia dengar. Benarkah? Ia rela setiap hari merasakan kram, pulang malam, asalkan Myungsoo mengkhawatirkannya.

“jangan ulangi lagi”

“apanya? Kramnya?”

“kau tidak menyiapkan keperluanku tadi pagi. Tidak membalas pesanku, tidak ada di rumah ketika aku datang, dan membuatku khawatir. Jangan diulangi lagi”

Baiklah, ia benar benar bertanya sekarang, apakah ia sedang bermimpi? Siapa saja, tolobg katakan tidak. Tidak, ia tidak bermimpi. Ini kenyataan. Tolong katakan itu padanya. Siapa saja, bahkan hatinya.

-TBC-

gimana-gimana ? pertama, ini FF ga bakal panjang, mungkin cuman 3 chapter. kedua? kalian pengennya gmn? myungsoo sama suzy, ato myungsoo sama sulli. berikan dukunganmu (?).

buat marriage, bentar lagi post, tinggal dikit -.-

komen ya? banyak sedikit komen menentukan cepet-lambatnya post.an
bye bye *waves hand*

 

79 thoughts on “On the paper *part 1*

  1. Aq suka crita yg ini^^ aq penggemar ff marriage life

    kritiknya dikit kok y cuma mau kasih tau cinta itu bukan 5 kata tapi 1 kata dengan 5 huruf😉, sama masih ada typo, over all critanya seru,dtunggu next part nya

  2. mau nya myungzy thor, sulli sama kai aja. ^^. tapi ini sedih koq thor kasihan suzy hrs nikah kontrak dan suaminya cinta sama pacarnya. di tunggu part selanjutnya.

  3. sumpah ini greget bgt dah, wkwk, maunya myungzy, jadi myungsoonya itu perlahan lahan kaya suka gt, tapi dia blm nyadar, itu aja saranku sih, lanjut ya

  4. Sad story, moga end’a happy ending🙂
    MyungZy donk chingu…MyungZy..MyungZy
    #DemobarengMyungZy Shipper😀
    Suka ma alur’a walaupun sad story tapi masih ada sweet moment MyungZy…heheh

    Next part publish soon ya chingu ^0^

  5. Keren keren… Myungsoo sama Sulli itu ada hubungan apa ko myungsoo menyangi Sulli😦 Aishh Myungsoo kapan kau akan bermanja-manja bersikap Romantis sama istri tercinta mu Bae Suzy. hehehe

    Tapi seperti Myungsoo udah mulai menyukai Suzy🙂

    Lanjuttt auhor..

  6. Myungzy chinguu..MYUNGZY !!!😀 hehehe
    pokoknya ga ikhlas klo myung sama yg laen-laen..
    Sad story gapapa yang penting happy ending deh myungzy’nya ..
    ditunggu next chapter’nya ya chinguu:)

  7. Jgn sad endinglaaah, ini keren huehehe,😀 ya Myungsoo sama Suzy dong, kalo sama Sulli kesannya tragis banget gak tega ke Suzynya -..- kan aku fansnya Suzy banget-banget.

  8. Waaahhh.. baru baca author, kereennnnn.. daebakk. Feelnya terasa banget deh😀
    Author, rajin2 ngepost yg myungzy dong😀 suka couple myungzy nih🙂
    Karya selanjutnya ditungguin ya author🙂

  9. pengen nangis bayangin kehidupan suzy….
    sebenernya myungsoo sukanya sama siapa, knp dia khawatir sama suzy kalo suzy g ada di rumah

  10. waah daebak
    nih ff keren, keren banget malah, feelnya dapet
    ini cuma ff tapi serasa baca novel2 best seller, kata2nya pas banget jadi ngebayanginnya jelas
    #udah woy kebanyakan bacot luh
    hehe habis seru ceritanya
    yang pasti MYUNGZY JJANG

  11. Wah bagus ceritanya thor ! Aku suka
    Di satu sisi Myungsoo masih mencintai Sulli di sisi lain Myungsoo mulai jatuh hati sama Suzy
    ahh pengennya Myungsoo sama Suzy..
    Bahasanya ringan ga terlalu berat untuk genre married life
    Lanjut ~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s