60 Seconds [Songfic]

Image

Tittle :  60 Seconds [Songfic]
Author : @anisa_hnchn
Genre: Romance,Angst,Drama,Sad
Cast :

Choi Minho

Bae Suzy

Length: Songfic
Rated : PG-13

# Author POV

Rintik hujan membasahi kawasan Seoul,Korea Selatan… dalam rangka menyambut musim dingin… sebagian orang-orang memutuskan untuk berteduh,berbeda dengan seorang lelaki jangkung,bermata besar. Manik matanya bagai mata elang. Binar harapan terlihat jelas pada pupil hitam kecoklatan miliknya…

Ia menengadahkan kepalanya,memejamkan matanya perlahan… kedua sudut bibirnya menyungging,membentuk sebuah senyuman manis,bagi seorang pria seukurannya…

pria berkemeja putih panjang,dengan celana jeans yang membaluti bagian bawahnya— ia bernama Choi Minho— membuka payung  silver miliknya, dan menengadahkan payung tersebut,agar rintik hujan dapat menempel pada payung  tersebut.

Ia tersenyum kecil,memperhatikan sekitarnya… banyak orang yang berlalu lalang mencari tempat teduh,dan itu sangat bertolak belakang dengannya…

Senyum kecilnya berubah seketika menjadi sebuah senyum lebar… menunjukkan barisan gigi putih miliknya—seketika ia melihat sebuah kedai kopi. Ia mempercepat langkahnya,menuju kedai kopi tersebut.

Ia menurunkan payung silver miliknya,dan dikibaskan nya perlahan payung tersebut,bermaksud agar rintik hujan yang menempel pada payung tersebut tersingkir.

Kaki panjangnya melangkah memasuki kedai kopi tersebut… diraihnya knop pintu pada kedai kopi tersebut,sehingga menimbulkan bunyi bel yang menandakan bahwa ada pelanggan yang masuk. Matanya mencari tempat dimana ia harus duduk…

Tempat yang strategis… di ujung ada sebuah meja kosong. Minho berjalan ke arah meja tersebut. Kemudian duduk pada sofa kecil yang berada disana. Ia menyandarkan tubuhnya pada sofa tersebut,dan menghela nafasnya perlahan.

Memperhatikan suasana seperti ini,persis dengan kejadian 3 tahun yang lalu…

“Aisshh… hujan.” Gerutu seorang wanita yang berada tepat disebelah Minho. Minho menoleh ke arahnya.

 

Ia hanya tersenyum kecil,kemudian melepas salah satu earphone nya,dan memakaikannya kepada gadis tersebut. “bisakah kau diam,dan hanya menunggu bis datang?” ucap Minho. Gadis tersebut mendengus kesal,dan melepas paksa earphone yang terpasang di telinga kanannya.

 

“Apa urusanmu?” Ucap gadis tersebut. Ia mengerucutkan bibirnya,dan menjaga jarak dari Minho. Minho kembali memasangkan earphone tersebut pada telinga kanannya.

 

“Jangan hanya karena disini kita hanya berdua,dan kau berpikir aku akan melakukan sesuatu padamu.” Ucap Minho,begitu menyadari gadis tersebut menjaga jarak,dan menjauh dari tempat duduknya,yang sebelumnya berada disebelah Minho.

 

Ia tidak menghiraukan omongan Minho dan hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Rasanya ingin memakan lelaki yang berada di sebelahnya itu… ia menggigit bibir bawahnya,dan merapihkan rambut hitam miliknya yang sedikit terkibas oleh angin…

 

Minho menoleh ke arah kanan,seorang pelayan dengan catatan kecil dan bolpoint,berdiri disamping meja Minho.

“ohh… Espresso satu.” Ucapnya,rasanya ia kembali terdampar dalam realita,dan membiarkan ingatan masa lalunya menghilang begitu saja.

“Ada tambahan?” ucap pelayan itu.

“Eopsseo…” Minho menggeleng sembari tersenyum ke arah pelayan tersebut.

Pelayan tersebut membungkukan badannya,dan menuju ke sebuah dapur.

“Annyeonghaseyo…”

Minho menoleh ke arah  sumber suara. Seorang gadis berpakaian jaket putih memasuki kedai kopi tersebut… ia tersenyum ke arah petugas yang berada di dalam kedai kopi ini.

Kedua mata Minho menatap dengan tulus ke arah gadis tersebut,memperhatikan gerak-geriknya,juga senyum yang terukir di kedua sudut bibirnya.

“Kau selalu terlihat seperti bidadari jika memasuki kedai kopi ini dengan jaket putih itu,dan juga—senyum yang selalu kau tunjukan ketika memasuki kedai ini.” Sahut salah satu pelayan yang bernama Kim Myungsoo. Suzy tertawa kecil,dan menepuk bahu Myungsoo.

“Gomawo Myungsoo-ssi. Tapi kurasa,itu hanya bayanganmu.” Suzy menyentuh lembut hidung Myungsoo,dan mendapat tawaan kecil dari keduanya.

“Eo,suzy-ssi… sepertinya kedai ini menjadi tempat yang wajib kau kunjungi ketika menjelang musim dingin,ya?” Ucap pelayan yang lain.

Suzy hanya tertawa kecil,dan mencari tempat duduk. Ia duduk tepat di meja sebelah Minho. Pelayan yang sedaritadi mengikuti Suzy segera mengeluarkan catatan dan bolpoint nya. “Ingin pesan apa,suzy-ssi?”

“Cappucino satu…” Ucap Suzy. “dan oh ya,Sohee-ssi. Ingat,tidak ada tambahan di setiap pesananku~” timpalnya lagi… Pelayan yang bernama Sohee itu hanya tersenyum kecil,dan menuruti permintaan Suzy…

Masih sama seperti dulu… Manis. Senyuman manis yang sangat ku rindukan. Dan manik matanya yang mampu membuat siapapun beku ketika menatapnya.

 

Suzy menyandarkan tubuhnya pada sofa,dikeluarkannya ponsel berwarna merah muda miliknya,jari-jari tangannya sibuk menyentuh layar touch screen mengetik huruf demi huruf.

“Bae—Suzy?” Minho memiringkan kepalanya,dan menatap ke arah gadis tersebut.

“Ne?” Suzy menoleh dan menghentikan aktifitasnya.

Degh

 

Mata besar milik Minho,tidak mampu berkutik.diperhatikannya dengan seksama wajah gadis tersebut. Bagi Minho,waktu berhenti 60 detik,ketika ia memperhatikan wajah gadis tersebut.

 

Melihat manik mata hitam miliknya,rasanya hati Minho tenang dan nyaman.Melihat bibir merah mungil miliknya. Melihat rambut hitam yang dibiarkan tergerai,manis. Kesan pertama yang ia temukan pada gadis itu adalah manis. Terlebih lagi paras dewi nya yang terpancar.

 

Minho melepas kedua earphone-nya “permisi… cheogiyeo.” Panggilnya dengan sopan.

 

Gadis tersebut menoleh ke arah Minho.ia tidak ingin di Cap sebagai gadis kasar,ia pun tersenyum ke arah Minho. “Naneun?” Ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri.

 

“Ne.” Minho mengangguk. Lidahnya terasa kaku ketika gadis tersebut tersenyum ke arahnya… 5 detik lamanya,mereka saling bertatapan dengan senyum yang masih terukir pada gadis tersebut. Minho memejamkan matanya,dan disaat itu juga kesadarannya kembali. Serasa waktu kembali berjalan. “Ireumi mwoyeyo?”

 

“Bae Suzy imnida…” Ucap gadis tersebut,dan memperlebar senyumannya.

Suzy kembali melanjutkan aktifitasnya,pikirannya benar-benar kacau,seketika melihat seorang lelaki yang tidak lain adalah masa lalu nya.

“Yeogi…” Ucap seorang pelayan sembari menaruh secangkir Espresso di hadapan Minho.

Minho menghela nafas panjang,dan mengalihkan tatapannya pada Espresso miliknya. Di raihnya gagang cangkir tersebut,didekatkan permukaan cangkir yang berisi Espresso pada bibirnya,hingga akhirnya permuakaan tersebut saling bersentuhan. Ia meminum secara perlahan Espresso tersebut.

“Tunggu disini sebentar…” Minho tersenyum kecil ke arah Suzy,dan diacaknya dengan lembut,rambut gadis itu…

 

“Choi Minho! Eodisseo?” Panggil Suzy,ketika sosok punggung Minho menjauh. Minho membalikkan badannya,dan hanya mengibaskan tangan kanannya…

 

Suzy hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Kepulan udara dari nafasnya membentuk sebuah asap putih. Suzy menarik jaketnya,bermaksud menambah kehangatan dalam tubuhnya.

 

“Tidak adakah musim salju yang menyenangkan? Mengapa selalu merepotkan dan membuatku jengkel?” gerutunya. Suzy menginjak kasar,salju dimana kakinya menapak sekarang.

 

Hari semakin malam,Suzy melihat jam yang berada di layar ponselnya. Pukul 19.40 malam. Ia memperhatikan sekitar taman,benar-benar gelap dan sepi… ia sama sekali tidak melihat batang hidung Minho…

 

Klek

 

Dalam sekejap,semua lampu yang berada disekitar taman mati seketika. Suzy menahan nafasnya. Ia benar-benar merasa ada yang tidak beres… baru saja ia ingin bangkit dan mencari Minho,namun pohon-pohon disekitarnya menyala seketika.

 

Memancarkan berbagai macam warna indah,Suzy mengernyitkan dahinya.

 

“Lihat ke atas!” perintah Minho,Sontak Suzy mencari keberadaan Minho,dan ternyata Minho sudah berada tepat dibelakangnya. “Jangan melihat ke arahku,lihat ke atas!” Pekik Minho,dan itu membuat Suzy mendengus kesal.

 

Sebuah kembang api memancar dilangit tersebut,namun ada yang berbeda. Kembang api itu membentuk sebuah huruf,dan huruf itu membentuk sebuah kata-kata.

 

“Sa-rang-hae” Suzy mengeja tulisan yang terukir diatas sana. Memang agak sulit,karena tulisan itu terlalu bersinar,membuat Suzy menyipitkan matanya.”arrayo… kalau kau tidak mencintaiku,untuk apa kita menjalin hubungan hingga 3 bulan lamanya?”

 

Minho tersenyum kecil… kemudian dipeluknya tubuh Suzy dari belakang,dan ia menumpukan dagunya pada bahu Suzy… “I have something to tell you…”

 

“Mwoya?”

 

Minho melepaskan pelukannya,dikeluarkannya sebuah kotak kecil berwarna hitam… dan dibukanya kotak tersebut.  Sebuah cincin berwarna perak,dengan hiasan berlian di tengahnya. “bagaimana kalau kita bertunangan?” Ucap Minho… ia meraih pergelangan lengan Suzy,dan menyentuh lembut jemari lentik milik Suzy.

 

Suzy hanya mengangguk dan mengukir senyuman manisnya…

 

Minho memakaikan cincin tersebut pada jari manis milik Suzy. Setelah itu,dikecupnya dengan lembut kening Suzy… “ini musim salju yang sangat menyenangkan,bukan?”

 

“Suzy-ssi… ini pesananmu…” Sebuah pelayan yang bernama Sohee itu,menaruh segelas cangkir di meja Suzy.

“Gomapseumnida,Sohee-ssi…” Suzy kembali mengukir senyumnya ke arah Sohee.

Minho hanya mampu menghela nafasnya,matanya memperhatikan cincin yang melingkar pada jari manisnya… sekuat tenaga ia mencoba tegar dihadapan gadis yang notabene nya hanya masa lalu yang kelam…

Ia mencengkram kuat-kuat jari manisnya,dilepasnya perlahan cincin itu. Kemudian ia bangkit,dan meletakkan cincin itu begitu saja di meja.

Suzy menggigit kuat-kuat bibir bawahnya,sekuat tenaga ia tahan rasa nyeri di dadanya. ia tahan agar air matanya tidak jatuh. Ia menggenggam kuat-kuat jari manisnya.

 

Ia menundukkan kepalanya. Menggeleng perlahan,dan melepas paksa cincin itu pada jari manisnya.

 

“Motthae… geuman haja.” Ucapnya. Ia meraih pergelangan lengan kanan Minho,dan membuka kepalan tangan Minho. Kemudian menaruh cincin itu pada telapak tangan Minho,dan kembali menutup telapak tangan Minho,serta menggenggamnya kuat-kuat.

 

“Ku mohon,kesalahan itu tidak akan terulang.” Ucap Minho memohon. Ia berlutut dihadapan Suzy.

 

Suzy hanya memejamkan matanya perlahan,kristal bening jatuh dari pelupuk matanya… ia tidak menghiraukan Minho dan berlalu begitu saja.

 

“Its over,Minho-ssi. We’re break up.”

 

Suzy menoleh ke arah Minho yang sudah membangkitkan tubuhnya,dan berlalu begitu saja. Diperhatikannya sosok punggung Minho yang makin menjauh… ia sadari kalau cincin Minho tertinggal.

Diambilnya cincin yang tertinggal di meja Minho,dan di genggamnya sekuat tenaga… “Aku merindukan cincin ini.” Ucap Suzy.

Suzy bangkit,dan berlari mengejar Minho… jari-jari lentiknya mencoba meraih kemeja Minho yang sedikit terangkat,karena angin yang lumayan kencang… “Minho-ssi!” panggilnya.

Minho menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya,dan melangkah lebih dekat agar payung yang ia pakai,juga bisa melindungi Suzy dari hujan yang semakin deras…

Minho menatap Suzy dengan tatapan yang bisa dibilang aneh… ia ingin tersenyum,namun ketika mengingat masa lalu nya,bibirnya kelu. Tidak membentuk senyuman sama sekali…

“ini cincin mu…” Suzy meraih pergelangan lengan Minho,membuka kepalan tangan Minho,dan menaruh cincin tersebut pada telapak tangan Minho. Ia tersenyum kecut… kemudian,berbalik,dan hendak berlalu dari Minho…

Minho benar-benar merasa tidak tahan dengan semuanya…ia memejamkan matanya,dan membiarkan hatinya yang berbicara… “bisakah kita melupakan masalah yang lalu,dan kembali bersama?” Ucap Minho.

Degh

Suzy menghentikan langkahnya… ia mencoba menahan rasa sesak di dadanya. Rasanya ia ingin kembali bersama dengan Minho,namun otaknya bertolak belakang dengan perasaannya.

Minho melempar payung yang ia pakai,kemudian berlari ke arah Suzy dan memeluknya dari belakang… ia tidak peduli,hujan membasahi tubuhnya… kemeja nya yang semula berwarna putih,kini menjadi tembus pandang.

“Kurasa…” omongan Suzy terpotong seketika tangis nya pecah. Ia berbalik,dan memeluk erat tubuh Minho…

Minho tersenyum kecut… di belainya dengan lembut pucuk kepala Suzy. “Maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulangi kebodohanku… dorawaga…”

Suzy menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Minho… ia berusaha menghentikan tangisnya,dan mengatakan jawaban dari pertanyaan Minho… “Aku—Aku ingin kembali bersamamu…” Ucap Suzy.

Minho tersenyum bahagia… “Kurasa,sekarang adalah,saat-saat menjelang musim dingin yang paling bahagia,yang pernah aku alami.”

END

HALOOOOO ~

Aku bikin ff ini terinspirasi dari lagunya sunggyu – 60 seconds ._.

Serius,aku pengen memperbagus (?) kata2. Tp malah jd ancur gini T.T

Hueeeee (?)

 

Maaf ya,kalo gadapet feel nya TT_TT

 

OHIYAAAAA AKU DENGER MINHO-SUZY DAPET SPECIAL STAGE YA DI MUBANK?!

GILA,PAS DENGER INFO ITU AKU LANGSUNG TERIAK2 GAJE😄

SUMPAH YAAAA,AKU SENENG BANGET AKHIRNYA ADA MOMEN MINHO-SUZY LAGI! AAAAAAA

 

Maaf caps jebol-_- aku bener2 fangirlingan liat info itu xD

Semoga mereka romantis lah ya,di special stageeee x3

 

Oke deh,RCL :]

11 thoughts on “60 Seconds [Songfic]

  1. bagus” saeng.. Pas bngt sma mv sunggyu yg 60 second.. Nanti itu mubank bsa streaming ga saeng.. Pingin liat minzy nih apalgi yg nyanyi nya 2am.. Ditunggu FF lainnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s