Let me change you *part 2* (final)

let me change you

 

Title : Let me change you
Author : Ananda Yune”
Main Cast :

  • Bae Suji ( Miss A
    Kim Myungsoo (INFINITE)

Length : Two-shot
Genre : Friendship, Romance

Annyeong.. aku datang bawa part finalnya. warning, pasti ada typos,soalnya aku engga re-read. jangan lupa RCL ya ? -happy reading–

Kita lihat saja nanti. Itulah sebuah kata yang memberi Myungsoo sebuah harapan agar mengenal Suji lebih dekat. Teman,  seseorang yang  berada di samping kita saat senang maupun duka. Harapan adalah sebuah katanya yang membuat hati kita sirna, harapan yang membuahkan hasil atau harapan yang sirna.

Myungsoo dan Suji, mereka berdua berjalan dalam hening. Hanya terdengar derap kaki diantara keduanya. Suji, ia tidak tahu haru memulai darimana, sedangkan Myungsoo, menyuaki saat saat seperti ini. Saat Suji terlihat gelisah dan membuat wajahnya terlihat lucu.

Tidak ada yang berubah, walaupun mereka berteman, tetapi tidak ada yang tahu jika mereka berteman, hanya seungyeol. Sungyeol, namja yang kelewat ingin tahu hubungan antara Suji dan teman sabngkunya itu. Teman, satu kata yang selalu Myungsoo ucapkan pada sungyeol. Dan jika Sungyeol bertanya ‘mungkin kah hubungan kalian lebih dari itu ?’ dan Myungsoo hanya diam. Tidak menjawab pertanyaan Sungyeol. Karena ia juga tidak tahu, dan ia hanya bisa berharap.

“bukankah kau pintar ? kenapa tidak paham soal seperti ini ?” Suji memarahi Myungsoo yang meminta bantuaannya pada soal Kimia. Well.. dia memang pintar, tapi tidak untuk Kimia, ia tidak tertarik pada senyawa dan juga angka-angkah yang rumit.

“tidak untuk kimia” jawabnya, lalu menyeruput juice yang tadi ia pesan.  Cafe ini menjadi tempat favourite Myungsoo dan Suji untuk belajar. Mereka berdua suka aroma kopi di sini dan kesan nyaman yang ditawarkan.

“perhatikan ini. Aku tidak akan mengulanginya.”

Mereka telag berkutat dengan buku-buku itu selama dua jam. Tapi tak ada satupun dari mereka merasa bosan. Tentu saja, belajar dan juga diselingi canda tawa. Hari sabtu mereka akan datang ke cafe ini untuk mereview pelajaran salama seminggu. Saling membantu satu sama lain, tetapi Myungsoo yang lebih terbantu dengan pembelajaran singkat ini. Mungkin Suji hanya kesulitan di bahasa Jepang saja. Tapi kenapa nilai Suji masih tetap jelek ? apa yang ia pikirkan saat ulangan berlangsung ? tidak itu saja, ia sering mendapati Suji melamun jika sedang belajar bersamanya.

“Suji-ah.. aku ingin bertanya padamu satu hal” Myungsoo meregangkan ototnya yang kaku selama belajar.

“apa itu? Kimia ?” Suji masih fokus pada buku tulisnya, mengerjakan PR Fisika tanpa kesusahan.

“bukan, kenapa nilaimu masih tetap buruk? Padahal kau lebih pintar dariku. Kenapa? Apa yang kau lakukan selama ulangan berlangsung?  Tidur ? melamun ? memikirkan seseorang ? seseorang yang sangat berarti bagimu ?” Myungsoo memperhatikan wajah Suji dengan teliti. Ingin mengetahui apa yang gadis ini sembunyikan. Ekspresi itu yang selalu muncul saat ia melamun. Ekspresi sedih dan juga rindu akan seseorang. Jika tebakannya benar, siapa orang itu?

Diam. Hanya itu yang Suji lakukan. Apa yang harus ia katakan ? menceritakannya atau mengubah topik ? ia tidak menyangka jika Myungsoo memperhatikannya hingga sedalam ini. Apakah ia menyesal berteman dengan Myungsoo ?

Masih tidak ada jawaban dari Suji Hingga mereka meninggalkan cafe itu, dan pulang ke rumah masing-masing.

 

********************

Myungsoo sedang berkonstrasi dengan lembar ulangannya, ketika Sungyeol menyikut lengannya. Ia menoleh malas ke arah Sungyeol “waeyo?” bisiknya.

“nomor 5,6,7,8”

“kau itu selalu. Itu namanya kau merampok jawabanku”

“ppali” Sungyeol mendelik melihat Myungsoo menggeleng pelan. Walaupun Myungsoo menggeleng, tapi ia tetap menggeser kertas jawabannya ke arah Sungyeol. Membiarkan sahabatnya itu melihat jawabannya dengan sukarela.

Selagi menunggu Sungyeol, ia memperhatikan teman-temannya yang sibuk mengerjakan dan menyontek seperti Sungyeol, hingga pandangannya jatuh pada Suzy. Yeoja itu menunduk menatap soalnya. Melamun. Bola matanya tidak bergerak membaca soal, hanya fokus pada satu titik. Seperti lembar foto. Entahlah, tempat duduk Myungsoo terlalu jauh untuk melihat foto apa itu.

Ia terus memandang Suzy hingga Sungyeol menepuk bahunya “terima kasih myunggie” ucapnya diseringi cengiran bahagia. Myungsoo hanya mengangguk dan kembali memandang Suzy.

“pantas saja nilainya jelek. Setiap ulangan bukannya mengerjakan, tetapi melamun. Bodoh sekali” suara Sungyeol terdengar. Ia ikut memandang Suzy ketika tahu Myungsoo sedari tadai memandang yeoja itu. Myungsoo mengangguk menyetujui.

“bodoh memang, apalagi yang menyontek ketika ulangan” balas Myungsoo dan kembali menatap lembar soalnya.

“YAAAAA” Sungyeol memukul lengan Myungsoo.

“LEE SUNGYEOL.. jangan berisik. Kerjakan ulanganmu” teguran Mr. Yong pada Sungyeol dengan alis berkerut.

Di saat yang sama, ketika Sungyeol berteriak, Suzy tersentak dari lamunannya. Lalu memandang sekitar, hingga pandangannya jatuh pada punggung Myungsoo. Namja itu sedang menghindari pukulan Sunyeol. Tanpa ia sadari, ujung bibirnya mengangkat dan membentuk sebuah senyuman. Ia menunduk untuk mengerjakan ulangannya

Baiklah, waktu tinggal 30 menit, dan dia belum mengerjakan satu soalpun.

****************

 

Bel pulang terdengar, seluruh murid berhamburan menuju gerbang ataupun tempat lainnya. Begitu juga dengan Suzy, ia berjalan tergesa-gesa, melewati Myungsoo yang masih bercanda dengan Sungyeol. Manik mata Myungsoo melirik Suzy yang berjalan di sampingnya dan tanpa sengaja menjatuhkan sesuatu dari saku rompinya. Selembar foto.

Myungsoo memungut Lembar foto itu, dan terpaku sekian detik.

“waeyo?” tamya sungyeol dan mendekat ke arah Myungsoo. Ingin melihat apa yang Myungsoo temukan.

“aniyo, Sungyeol-a, aku duluan. Bye” ucapnya singkat, mengambil ranselnya dan berlari menyusul Suzy yang telah mencapai gerbang, sedangkan ia masih di lantai dua. Sepertinya Suzy  akan ke halte bus, mengingat yeoja itu berbelok ke arah kanan.

Dengan kemampuan lari cepatnya, ia berhasil menemukan Suzy yang sedang duduk menunggu bus dengan tenang. Tidak, Myungsoo tidak ingin mendekat. Ia sangat penasaran dengan gadis itu. ia akan menjadi mata-mata.

Bus berhenti, Suzy bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju bus, berdiri di bibir pintu bus, memberi jalan pada anak-anak kecil yang keluar dari bus, lalu ia masuk ke dalam. Memilih tempat duduk di pinggir jendala. Dan kembali melamun. Tidak memperhatikan Myungsoo yang duduk tepat di belakangnya.

Untung saja Myungsoo membawa jaket. Setidaknya Suzy tidak dapat melihat seragam yang sama dengannya, pikir Myungsoo dalam hati.

“lagi-lagi melamun” gumam Myungsoo yang melipat kedua lengannya sejajar dengan dada. Masih memperhatikan yeoja ini dengan serius.

Ia juga tidak habis pikir, yeoja aneh seperti Suzy dapat menarik perhatiaanya. Apakah yeoja ini balas dendam, lalu menggunakan ilmu sihir agar Myungsoo penasaran dengannya ? iya memang penasaran dengan yeoja ini, tapi ada perasaan lain yang membuat dirinya mendekatkan diri pada yeoja ini. Rasa khawatir akan yeoja ini ? Rasa ingin melindunginya ? Rasa yang ingin selalu berada di samping yeoja itu? atau semua rasa itu bercampur jadi satu dan menjadi cinta ? ahh tidak mungkin, terlalu cepat.

Hujan, butiran air yang jatuh dari langit. Memang langit mendung sedari tadi. Selain butiran air yang jatuh dari langit, ia juga melihat butiran air yang jatuh dari kelopak mata Suzy. Tak lama kemudian, suara isakannya terdengar. Walaupun tidak keras, Myungsoo dapat mendengarnya. Untunglah, orang di sekitarnya tidak mendengar, tertolong dengan suara deras hujan. Ia tidak menyangka hujan semakin deras dalam hitungan detik.

Suzy bangkit dari duduknya, berjalan melewati Myungsoo, dan tentu saja Myungsoo mengikuti dari belakang. Ketika mereka keluar dari bus, langsung disambut air hujan yang deras, dalam sekejap seragam Suzy basah, begitu juga dengan Myungsoo. Bukannya berteduh, Suzy terus sala berjalan ke area pemakaman yang cukup luas.

“makam?” gumam Myungsoo, masih berjalan patuh di belakang Suzy.

“tsk, si bodoh ini. Kenapa harus berjalan terus ? kenapa tidak berteduh dulu ? jika demam bagaimana ?”

Suzy berhenti di salah satu makan yang terawat. Ada bunga mawar yang masih segar di atas gundukan tanah itu.

“rupanya tadi ayah ke sini” ucap Suzy, tidak dapat didengar Myungsoo karena suara air hujan yang sangat deras.

Myungsoo duduk tidak jauh dari Suzy, melihat punggung yeoja itu bergetar hebat. Pasti menangis. Di keluarkannya lembar foto yang ia temukan tadi. Bae Suzy-Bae Suyeon. Jadi, ia punya saudara kembar. Rupanya Suzy yang dulu berbeda dengan Suzy yang sekarang. Bae Suzy yang sekarang terlihat seperti Bae Suyeon.

Di foto itu, Suzy membawa piala dan piagam karena ia memenangkan olimpade matematika, juara satu. Dan Bae Suyeon juga membawa piala dan piagam, karena ia juga memenangkan olimpiada biologi. Rambut Suzy yang tergerai manis sepunggung, dengan poni yang cocok untuknya, sedangkan Bae Suyeon gadis yang tomboy. menggenakan kacamata kuno yang sekarang digunakan Suzy, Rambut yang diikat tidak rapi, dan pakaian yang hauh dari kata feminim.

Setidaknya, Suzy tidak meniru cara berpakaian saudaranya yang mirip laki-laki itu. Myungsoo bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekat ke arah Suzy. Kenapa ia tidak membawa payung ?”

“Suzy ?” panggil Myungsoo tepat di sampingnya. Suzy menoleh ke samping dan kaget melihat Myungsoo ada di sampingnya.

“apa yang kau lakukan di sini ?” ucap Suzy setengah berteriak agar Myungsoo mendengar ucapannya. Derasnya hujan membuat suara mereka berdua hampir tidak terdengar.

“aku di sini karena peduli dengan temanku” jari tangan Myungsoo terangkat ke arah pipi suzy, menyeka helaian rambut Suzy yang menempel di pipi putih itu.

“kau ingin menceritakan saudara kembarmu itu padaku ? Bae Suyeon?” tanya Myungsoo masih setengah berteriak.

“kau tahu darimana tentang dia?”

“kau menjatuhkan ini ketika pulang tadi” Diberikan lembar foto itu pada pemiliknya. Tangan Suzy bergetar menerima foto itu.

“kenapa aku harus menceritakannya padamu ?”

“karena aku temanmu. Sesama teman harus membantu, bukan ?”

“saling membantu ?” suzy menunduk dan kembali menatap makan saudaranya itu.

“iya, Seperti Sungyeol dan aku. Aku selalu membantunya ketika ulangan” Suzy tersenyum mendengar alasan Myungsoo. Membantu dalam menyontek ?

“aku tidak punya acara hari ini. Aku siap menunggumu bercerita walaupun sampai malam. Akan kutunggu” ucap Myungsoo lagi seraya menggenggam telapak tangan Suzy.

Tak lama kemudia bibir Suzy yang bergetar mengeluarkan suara yang kecil, sehingga Myungsoo harus mendekat agar dapat mendengar.

“Bae Suyeon. Dia saudara kembarku. Dia lahir lima menit setelah aku, sehingga ia yang menjadi unni. Dari kecil daya tahan tubuhnya lemah. Seminggu sekali selalu check up ke rumah sakit, berkonsultasi dengan dokter hingga SMP.” Suzy berhenti, masih memandang makan saudaranya. Myungsoo hanya diam, tidak memaksanya untuk bercerita.

“Kedua orang tuaku selalu memperhatikannya. Menaruh perhatian yang lebih padanya daripada aku. Suyeon unni, selalu didampingin oleh kedua orang tuaku, sedangkan aku didampingin oleh bibi yang merawatku. Permintaan Suyeon unni selalu dikabulkan, sementara mereka selalu menunduka permintaanku, ‘suzy-a, nanti ya? Ke bibi dulu sana?’ katanya yang selalu kudengar dari mulut mereka, tapi permintaanku tidak pernah terkabul. Mereka lupa untuk membelikan pesananku, selalu aku sendiri yang membeli keperluanku sendiri.”

“aku suka tidur dalam gelap, dan ia takur jika harus tidur dengan lampu padam. Sehingga ak harus memaksakan diriku untuk tertidur dengan lampu menyala. Kandang-kadang aku bisa tidur dalam gelap, tentu saja unni tidak ada di kamar. Ia tidur di rumah sakit atau tidur dengan mama dan papa. Sedangkan aku hanya tidur dengan mendekap boneka yang kubeli dengan tabunganku sendiri”

“keadaan kami dulu tidak seperti sekarang, harta yang melimpah ? dulu kami tinggal di rumah kecil namun nyaman. Ada tiga kamar, kamar mama-papa, kamarku dan unni, dan kamar untuk bibi. Setelah Suyeon unni pergi, mereka menjadi gila berkerja, sehingga kami menjadi keluarga berada sekarang. Jauh berbeda dengan dulu”

“ah.. masih ada satu hal yang sama. Daridulu hingga sekarang, aku jarang melihat orang tuaku. Dulu karena mereka sibuk mengurus unni, menginap di rumah sakit, sekarang mereka sibuk berkerja, sehingga bertatap muka hanya di hari Senin, ketika sarapan, setelah itu mereka pergi keluar negeri atau kepulau lain hingga hari minggu”

“tentu saja, aku lelah dengan hidupku waktu itu. aku merasa hidup seorang diri, dengan bantuan bibi. Hingga suatu hari, ketika unni sedang membaca buku biologi di rajangnya, dan aku berbaring di atas ranjangku, kuutarakan padanya bagaimana perasaanku selama ini. Penderitaan yang kurasakan, rasa cemburu, dan aku bertanya padanya di akhir pernyataanku ‘unni, apakah aku anak dari appa dan umma ? kenapa berbeda darimu, unni ? apakah kau tahu bagaimana menderitanya dinomer dua-kan dari kecil hingga sekarang ini (SMP) ? rasanya tidak mendapat perhatian dari orang tua? Dan rasanya harus mengalah setiap saat? Akulah yang merasakan itu semua, unni. Dan aku lelah’ “

Lengan Myungsoo merengkuh tubuh Suzy dalam pelukannya.

“bagaimana dengamu Myungsoo ? apa kau tahu rasanya selalu menjadi nomor dua, dan tidak mendapat kasih sayang ? menyakitkan”

“apa penyakitnya?”

“kanker darah, dan aku menyesal karena teah mengakatakan itu padanya. Karena dua hari setelah itu, unni pergi untuk selamanya ketika sedang hujan deras, begitu juga dengan appa dan umma yang menangis tiada henti tidak dapat menerima kenyataan. Dan kehidupanku menjadi lebih buruk. Semua masih sama. Kecuali aku yang mendapat kamar sendiri, dan bebas tidur dalam gelap.

“lalu kenapa kau berubah menjadi dirinya?”

“itu ? karena aku ingin merasakan apa yang unni rasakan? Jika aku berpenampilan seperti unni, tidak bisakah mereka memberikan kasih sayang yang sama padaku seperti mereka memberikan kasih sayang pada unni, dan ternyata..” Suzy menghembuskan nafas.

“ini semua percuma.”

“jadi, aku akan menjadi Bae Suzy yang lama ? Bae Suzy yang tidak menggunakan kacamata kuno, Bae Suzy dengan rambut yang terurai indah, dan Bae Suzy yang pintar ?”

“entahlah, mungkin sedikit lebih lama lagi. Aku masih ingin menunggu orang tuaku”

“Suzy-a, akan lebih baik jika mereka memberikanmu kasih sayang padamu, tanpa memandang kau sebagi Suyeon, tetapi memandangmu menjadi Suzy.”

“kau benar, Tapi Suyeon unni, selalu menjadi  figur yang special bagi umma dan papa, dan bagi diriku sendiri” ya, Bae Suyeon adalah someonenya

“kau juga special, kau special menurutku. Mulai sekarang hingga seterusnya, kau menjadi figur yang special bagi diriku.” Ucap Myungsoo yang dibalas Suzy dengan senyuman.

“Jongmal?”

“jika kau menganggapku sebagai figur yang special dalam hidupmu”

“apa ini ?” Suzy menatap Myungsoo bingung. Ada nada aneh dalam ucapan Myungsoo tadi.

“seseorang yang special, lebih dari sekedar teman”

“sahab…”

“bukan juga sahabat”  potong Myungsoo sebelum Suzy menyelesaikan ucapannya.

“namjachingu ???” tanya Suzy sedikit kaget. Myungsoo hanya tersenyum masih tetap memeluknya.

**************

Semua mata memandang yeoja itu. Yeoja yang berjalan dengan percaya diri. Rambut panjang yang tergerai indah di punggungnya, poninya sedikit berantakan keran hembusan angin nakal, sebuah jepitan rambut yang berbentuk pita tertempul di rambutnya. Dan tidak lagi memakai kacamata.

“Myungsoo” ucapnya ketika tangan yang menggengggam pergelangan tangannya.

“waeyo ?”

“ani… ah terima kasih untuk kemarin, dan juga kau telah membelikan jepitan ini untukku”

“itulah yang dilakukan namja untuk yeoja chingunya.” Hanya tertawa dengan jawaban Myungsoo.

“ahhh.. pantas saja dulu ia sering memperhatikan Suzy, ternyata dia sangat cantik” gumam Sungyeol yang melihat sahabatnya yang sedang menuju ke arahnya.

“Bae Suzy ? dia Bae Suzy ? apakah ia melakukan operasi plastik ? kemarin dia masih oja yang jelek dan kuno.. omo, omo, omo..”

****************

-EPILOG-

                Suji sadar dan menghapus air matanya sebelum mengalir lebih deras dengan telapak tangganya. Tanggannya dengan cepat  merapikan buku-bukunya dan berjalan melewati myungsoo yang masih menatapnya bingung. Suji menahan tangisannya sampai ia menumukan tempat yang aman untuk menangis sepuas hatinya.

Suji menghempaskan tubuhnya di halaman belakang sekolahnya. Diletakkan buku-buku yang dibawanya. Ia tahu tempat ini sepi. Tempat ini menjadi tempat persembunyiannya. Tempat persembunyiannya saat ia ingin menangis. Menangis karna ucapan teman-teman yeojanya yang menganggapnya aneh, menangis jika ia teringat someone-nya.

Ia biarkan air matanya keluar tanpa henti. Ia tahu ucapan myungsoo itu adalah fakta. Sekarang ia harus menerima itu, Bae Suji yang dulu bukan Bae suji yang dulu lagi. Dengan penampilan dan kepribadian yang berbeda.

Ia melepas kacamatanya. Ia tidak dapat melihat dengan jelas karna lensa kacamatanya yang dipenuhi dengan air mata. Ia menundukkan kepalanya.

Tangannya terangkat  untuk melepas ikatan rambutnya. Dan ini dia, rambutnya yang sebenarnya. Rambutnya pajang yang selama satu tahun ini ia ikat dengan berantakan. Sebelum rambut itu menyentuh punggungnya, hembusan angin membuat rambut hitam lebat itu bergerak tak tentu arah, mengikuti angin yang juga berhembus.

“Dia…” suara Myungsoo sedikit kaget melihat Suji yang ada di di taman sangat berbeda dari biasanya. Sangat cantik. Apalagi hembusan angin yang bermain dengan rambut panjangnya itu.

Ia keluarkan ponselnya, dan memfoto yeoja itu. setidaknya ia dapat melihat foto ini, jika ia rindu pada sosok Suji yang yang seperti di taman itu.

Itulah mengapa Myungsoo selalu menatap Suji setelah kejadia itu. mmembawa cermin untuk mengamati gerak-gerik yeoja itu yang sebangian besar melamun.

-END-

How ? aneh ? RCL ya :DD

40 thoughts on “Let me change you *part 2* (final)

  1. bagus thor ternyata myungsoo uda lihat suji dengan rambut tergerai dan tanpa kacamata makanya dia suka suji. oh ternyata someone itu kembarannya. bnr2 bagus thor. di tunggu ff selanjutnya.

  2. arggg ampe nangis wktu tau alsan suzy TT keren feelnya dapetbaget
    wah myungppa akhirnya bukan sekedar chingu kekekke
    chingu mash ad yg nganjel, suzy dapat kasih sayang ortunya kah?

  3. Huaaa ternyata someone itu kembarannya
    Aku sedih baca ffnya terutama yg suzy ngerasa selalu jd nomer 2 dibanding unnienya
    untung skrg ada myungsoo
    kutunggu ff author yg lainnya ya keep fighting author ^.^)9

  4. akhir’a pertanyaan yg muncul slama ini diotak saya terjawab sudah dipart ini😀
    Ckckck..ternyata Suzy unni bukan hanya nerima Myungsoo oppa sbagai chingu’a tapi jga nerima Myungsoo oppa sbagai namjachingu’a🙂
    Aku suka ending’a..happy ending😀

    Nice story..Ditunggu ff lain’a ^0^

  5. I love Myungzy!!! Thanks ya author…🙂 Deabbaakkkk!!
    Walaupun sempet mau meneteskan air mata,
    tapi lega karena aendingnya bahagia…
    Ditunggu ff keren lainnya..

  6. Daebak thor!:-D
    feelnya dapet, kasihan suzy ga diperhatiion sama orang tuanya. Ngomong ga dianggap sama temen aja gendok, apalagi ini? Sulit dibyangkan. Tapi seru, kyaa jadi myungzy shipper nih kke^^

  7. Cerita yang menarik dengan alur yang lambat tapi semakin menarik dengan cerita yang tak terduga.. Alurnya tidak membuatku bosan saat membaca malah semakin membuatku ingin membaca karena penasaran😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s