[Freelance] Last story

 

Title : Last Story
Author : Dian Linglung
Length : Oneshoot
Theme : Angst, sad, romance
Rating : PG-15
Main Cast :

  • Bae Suzy
  • Kim Myungsoo

Support Cast :

  • Meng Jia
  • Kim so hyun
  • Jung yunho

 

Suzy POV

Aku menatap butiran-butiran obat yang ada di tanganku dengan tatapan bosan. Sampai kapan aku terus memakan butiran-butiran kecil yang memuakkan ini? Selamanya? Seumur hidupku? “Suzy~ah pastikan kau memakan obatmu. Cepatlah kau berangkat ke sekolah!”

“Ne, eonni!”

‘mianhe eonni!’ aku menggemgam obat-obat di tanganku dan berjalan menuju kamar mandi. Aku membuka genggaman tanganku dan menatap lagi butiran-butiran obat yang telah menjadi bagian hidupku selama ini, ‘selamat tinggal obat-obat pahit!’ aku menjatuhkan semua obat yang ada di tanganku di closet kamar mandi. Aku sungguh muak!  Meskipun aku terus memakan obat-obat ini tetap saja aku akan mati. Tak ada harapan lagi bagiku untuk melanjutkan hidup.

“Eonni~ aku berangkat”

“Ne, hati-hati, kalau terjadi sesuatu hubungi eonni, arraseo?” aku menggangguk dan tersenyum pada Jia eonni. Dia sama sekali tidak memiliki hubungan darah denganku, dia hanya orang asing yang tidak sengaja masuk ke dalam hidupku, hidupku yang menyedihkan.

Jia eonni satu-satunya orang yang kumiliki, kami berdua tinggal di rumah sederhana peninggalan kedua orangtuanya. Dia bekerja sebagai sekertaris di sebuah perusahaan, dia bekerja sangat keras untuk menghidupiku.

Tuhan, beri dia kesehatan aku tidak mau dia sakit karena bekerja terlalu keras demi aku.

^~^~^

 

Myungsoo POV

Aku tidak tahu apa yang aku lakukan sekarang, berdiri di balik pohon di depan rumah suzy, gadis menyebalkan yang tidak tahu sopan santun.

Aku melihat pintu rumah suzy terbuka, gadis itu tersenyum manis pada seorang wanita yang ada di hadapannya. Ibunya? Mmh… terlalu muda untuk disebut ibu, mungkin kakaknya.

Arghh… aku memukul keningku sendiri, untuk apa aku memikirkan orang itu, ibunya? Kakaknya? Atau pembantunya, tidak ada hubungannya denganku.

Eh? Aku memiringkan sedikit kepalaku melihat perubahan mimik suzy setelah pintu rumah tertutup. Raut wajahnya menggambarkan kesedihan, kenapa dia?

Entah setan apa yang merasukiku sekarang, aku melangkahkan kaki berjalan beberapa meter dibelakangnya menjaga jarak agar dia tidak menyadari kehadiranku.

Sepanjang perjalanan aku hanya memperhatikan punggungnya, dia berjalan dengan kepala menunduk. Sampai di persimpangan jalan dia masih saja menundukkan kepalanya, jalanan di depannya sangat ramai, lampu lalu lintas itu berubah warna menjadi hijau, semua pejalan kaki menghentikan langkahnya kecuali gadis itu.

Kenapa dia sebenarnya? Apa dia bosan hidup?

Aku mempercepat langkahku, untuk menyusulnya. Aku mencekal tangannya dan menariknya ke belakang, tubuhnya sedikit limbung karena tarikan tanganku aku memegang pinggangnya agar dia tidak jatuh.

Tubuhnya kini berada tepat dihadapanku, ani aku memeluknya tangan kananku memegang tangannya dan tangan kiriku memegang pinggangnya, tak ada jarak diantara kami. Matanya membulat menatapku tidak percaya.

“YAK!! Apa kau gila? Kau bosan hidup?” cerocosku langsung, entah kenapa aku sangat marah melihatnya seperti ini.

“Ne, aku sudah gila, dan aku bosan hidup.” Jawabnya dengan menatap mataku tajam. Dia mendorong tubuhku menjauh darinya. Dia kemudian pergi meninggalkanku terdiam di tempat semula.

Gadis tidak tahu terima kasih.

^~^~^

Authot POV

“Suzy~ah gwenchana? Aku ketakutan setengah mati saat melihatmu pingsan kemarin.”

“Gwenchana ji eun~ah. Gomawo kau telah menolongku kemarin.”

“Syukurlah. Orang yang menolongmu bukan aku, tapi myungsoo sunbae.”

“Ne?”

“Itu orangnya, kau harus berterima kasih padanya.” Ujar ji eun sambil menunjuk myungsoo yang sedang berjalan di koridor.

Suzy terdiam, dia ingat orang itu yang menyelamatkannya tadi pagi. Dia sudah diselamatkan dua kali oleh myungsoo.

“Myungsoo sunbae!” teriak ji eun memanggil myungsoo.

Suzy menatap ji eun dengan tatapan tak suka. “Yak! Apa yang kau lakukan?”

“Eh? Memanggilnya, agar kau bisa berterima kasih.”

Myungsoo berjalan menghampiri ji eun dan suzy, tinggal tiga langkah lagi myungsoo sampai di hadapan kedua gadis itu. Suzy berbalik dan pergi meninggalkan ji eun tanpa sepatah kata pun.

“Yak!! Kau mau kemana suzy~ah? Aish~”

Myungso melihat dengan sangat jelas suzy pergi, diiringi teriakan dan gerutuan ji eun.

“Wae ji eun~ah?” Tanya myungsoo tanpa melihat ji eun. Tatapan matanya sibuk melihat punggung suzy yang berjalan semakin menjauh.

“Annyeong sunbae!” ji eun menggaruk pipinya yang tidak gatal, “Temanku, suzy tadi mau berterima kasih padamu, tapi sepertinya dia kebelet jadi aku mewakili dia untuk mengucapkan terima kasih padamu atas kejadian kemarin sunbae.”

“Mmh..” myungsoo hanya menggumam tak jelas.

“Sunbae, sekali lagi terima kasih. Aku kembali ke kelas dulu, annyeong!!”

^~^~^

 

Suzy POV

Aish, apa yang dipikirkan ji eun? Kenapa dia menyuruhku berterima kasih pada sunbae itu? Apa perlu? Diselamatkan atau tidak aku tetap akan mati cepat atau lambat.

Aku berjalan menuju kelas dengan tergesa-gesa, keringat membasahi keningku. Aku berhenti berjalan menyenderkan punggungku di tembok, tanganku mengusap kening yang penuh dengan keringat. Ada apa denganku? Badanku terasa lemas. Aku menutup mataku sebentar mencoba  tenang, sambil mengatur nafasku.

“Yak! Bae suzy! Kenapa kau pergi begitu saja tanpa berterima kasih pada myungsoo sunbae?”

Aku membuka mataku, ji eun ada dihadapanku dengan wajah cemberut.

“Mianhe!” ujarku lemah.

“Gwenchana?”

“Nan gwenchanayo.”

Ji eun menatapku khawatir, aku tersenyum meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa.

^~^~^

“Suzy~ah aku pulang duluan, cheondung oppa sudah menjemputku. Gwenchana?”

“Gwenchana. Pergilah! Aku harus membawa buku-buku ini ke ruang guru.”

“jinjja?”

“aish~ jinjja gwenchana.” Aku mendorong pelan tubuh ji eun ke pintu kelas.

“Arraseo, annyeong!” akhirnya dia pergi juga.

Aku berjalan menuju ruang guru dengan setumpuk buku yang ada di tanganku. Aku memang sakit, tapi aku masih sanggup melakukan apapun tanpa bantuan orang lain.

Selesai menyimpan buku-buku itu ke ruang guru aku berjalan pulang. Berjalan perlahan menyusuri koridor sekolah memandang ruangan-ruangan kelas yang ada di kanan dan kiriku yang sepi. Tanganku kubiarkan menyentuh dinding bercat putih disamping kananku. Terlintas di benakku bisakah aku hidup dua tahun lagi dan bisa lulus sekolah?

Aku menghentikan langkahku dan memejamkan mataku, membayangkan suasana koridor yang ramai oleh siswa yang sedang mengobrol, bercanda, berlari, bahkan bermain bola. Jia eonni pernah berkata padaku, masa-masa sekolah itu masa-masa yang paling menyenangkan. Masa yang tak akan pernah terulang ketika kau beranjak dewasa. Masa dimana kau akan menemukan jati dirimu sesungguhnya dan juga masa yang akan mengajarkanmu apa itu cinta.

Cinta? Aku membuka mataku dan tersenyum miris. Sampai sekarang aku tidak tahu apa itu cinta. Aku belum merasakan bagimana rasanya jatuh cinta, bukan tidak mau tapi aku tidak berani. lelaki mana yang mau mencintai dengan setulus hati pada gadis penyakitan sepertiku? Tidak ada. Kalau ada pun, bukan cinta tapi rasa kasihan.

Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba pusing, “arghh!!” aku memukul-mukul kepalaku sendiri berharap rasa sakitnya hilang tapi bukannya hilang malah makin menjadi, kakiku lemas, pandanganku kabur dan kemudian gelap.

^~^~^

Myungsoo POV

Aku mengeluarkan buku-buku di dalam tas, “aish~ dimana buku itu? Kenapa tidak ada?”

Aku mencari buku tugas b.inggris, aish pasti ketinggalan di kelas. Dengan berat hati aku harus kembali ke kelas. Kalau tidak, besok aku akan kena amuk ha ni songsenim.

“Hyung, tunggu disini sebentar, ada barang yang tertinggal.”

“Aish~ kau ini! Cepat ambil aku harus ke rumah sakit.”

“ne.”

Aku membuka pintu mobil dan langsung berlari menuju kelasku dengan menggunakan jalur alternative, jalan belakang yang sering digunakan untuk kabur, atau masuk saat gerbang utama di kunci.

Untungnya kelasku masih belum di kunci. Jadi aku tidak perlu repot-repot untuk masuk lewat jendela.

Tanpa ba bi bu aku berjalan menuju mejaku. Akhirnya aku menemukannya, buku babo ini ada di kolong mejaku. Aku segera keluar dari kelas dan berjalan menuju gerbang, so hyun hyung pasti akan marah jika aku berlama-lama disini.

Saat aku akan berbelok ke kiri pandangan mataku berhenti pada sesosok yeoja yang berbaring di lantai. Aku berlari menghampirik sosok yeoja itu, mataku membulat saat tahu siapa yang ada dihadapanku sekarang.

“Ya tuhan, suzy! Ireona!!” aku mengangkat tubuh suzy ala bridal style menuju mobil so hyun hyung.

“Hyung!! Tolong!” teriakku panik

So hyun hyung keluar dari mobilnya “Dia kenapa myungsoo~ah?”

“Mollayo, aku menemukannya pingsan di koridor.” Aku memasukkannya ke dalam mobil so hyun hyung.

So hyun hyung memeriksa nadi, sesekali ia menggelangkan kepalanya.

“Bagaimana hyung?”

“Detak jantungnya lemah, kita harus membawa dia ke rumah sakit, agar aku bisa memeriksanya lebih lanjut.”

^~^~^

Author POV

Kim so hyun yang seorang dokter memeriksa suzy lagi, dia merasa ada yang aneh dengan suzy.

“Hyung, bagaimana keadaanya?” Tanya myungsoo

Tak lama seorang perawat datang, “Suzy!!!” pekik perawat itu.

Myungsoo dan so hyun memandang heran perawat itu. “Kau mengenalnya? Tanya so hyun, perawat itu menggangguk, “Dia pasien dokter Jung. Aku akan memanggilnya.”

So hyun dan myungsoo saling memandang, “Dia pernah masuk ke rumah sakit sebelumnya.” Gumam so hyun.

Tak lama dokter jung Yunho datang, dia langsung memeriksa suzy, sesekali dia menggelengkan kepalanya. “Suster shin, pindahkan dia ke ruang isolasi, dan hubungi kakaknya!”

So hyun kaget mendengar perintah dokter jung, “Chakkaman dokter, apa penyakitnya separah itu sampai harus masuk ruang isolasi?”

“Lebih parah dari yang kau bayangkan.” Jawabnya dengan intonasi penyesalan.

Myungsoo sangat kaget dengan apa yang dikatakan dokter jung, dia tidak percaya gadis itu memiliki penyakit yang sangat berbahaya.”

So hyun menepuk bahu myungsoo, “Lebih baik kau pulang sekarang, temanmu sekarang sudah ditangani oleh dokter professional.”

Myungsoo menggeleng, “Shireo! Aku mau disini, aku ingin tahu penyakit apa yang diderita suzy.”

“Yak! Kim myungsoo, sebenarnya siapa gadis itu? pacarmu?”

Myungsoo diam, so hyun terlihat berpikir “Ah~ jangan-jangan dia gadis yang ada di dalam handphonemu itu?” myungsoo menggangguk lemah “Dia hoobae yang kau sukai?” myungsoo menggangguk lagi. So hyun menghela napas “Arraseo, aku akan menghubungi eomma dan appa.”

“Gomawo, hyung.”

“Mau ku antar ke ruang isolasi?” Tanya so hyun, myungsoo memandang wajah kakaknya itu dan mengangguk “Baiklah, tapi kau tak bisa masuk, kau hanya diperbolehkan untuk melihatnya dari luar.”

Myungsoo berjalan di belakang so hyun, tak lama mereka sampai di sebuah ruangan yang dinding ruangan itu setengahnya memakai kaca, myungsoo bisa melihat dengan jelas pemandangan yang ada di dalam ruangan. Dokter jung sedang memeriksa kondisi suzy, dan seorang perawat memasangkan jarum infuse ke tangan kiri suzy.

Selang beberapa menit, dokter jung dan perawat itu keluar. Dokter jung berhenti di depan so hyun, “Apa kau mahasiswa kedokteran yang sedang praktek?”

“Ne, annyeong haseo kim so hyun imnida. saya sedang praktek, dokter pembimbing saya dokter choi.”

“Oh begitu, dan kau?” dokter jung menunjuk myungsoo yang dari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari suzy yang berbaring tak berdaya.

Tak ada jawaban dari myungsoo, so hyun geram dengan tingkah adiknya. “Dia, adikku teman gadis itu.”

Dokter jung mengangguk, ketika ia ingin meninglkan myungsoo dan so hyun langkahnya terhenti karena ia melihat sosok Jia yang berlari ke arahnya.

“Dokter bagaimana keadaan suzy?” tanyanya langsung dengan nafas tak beraturan.

“Mulai membaik, Jia ssi, bukankah sudah kuperingatkan agar kau mengawasi adikmu untuk minum obat, dia begini karena dia tidak meminum obatnya.”

“Ne?” Jia kaget dengan apa yang dikatakan dokter Jung, dia tidak menyangka bahwa suzy tidak meminum obatnya, benar ini salahnya karena dia tidak mengawasi suzy secara langsung.

^~^~^

Seminggu setelah kejadian pingsannya suzy di sekolah ia masih di rawat di rumah sakit ditemani Jia dan juga myungsoo yang setiap hari mengunjunginya.

Tiap kali myungsoo datang menjenguk, suzy pasti mengusirnya. Di usir berapa kali pun myungsoo tetap datang lagi ke rumah sakit, dengan alasan memberi les gratis agar dia tidak tertinggal pelajaran. Jia merasa senang, karena ada yang peduli dengan suzy selain dirinya. Tiap kali myungsoo di usir oleh suzy pasti Jia akan membela.

“Eonni, pulanglah! Kau pasti lelah, aku tidak apa-apa di sini sendirian, nanti ada suster eun ji yang akan menemaniku.”

“Gwenchana suzy~ah.” Dia tersenyum menatap suzy sambil menyentuh pipinya dengan lembut.

“Eonni, jebal!! Aku tidak mau eonni sakit, cukup aku saja yang sakit.”

Jia  mengusap lembut rambut suzy, “Kau tidak akan kesepian?”

Suzy menggeleng.

“Kalau begitu eonni akan memanggil myungsoo agar dia menemanimu.”

“Jangan. Aku tidak apa-apa di tinggal sendirian.”

“Baiklah, eonni akan menitipkanmu pada suster eun ji.”

Jia akhirnya menuruti permintaan suzy dan segera pulang ke rumah.

“Annyeong suzy~ah!” sapa myungsoo

“Kau! Mau apa kau kesini lagi?”

“Aku akan mengajarkanmu matematika.”

“Aku tidak mau belajar. Pergi kau!”

“Aku tidak akan pergi.”

“Wae?”

“Aku akan menemanimu, diam di rumah sakit sendirian itu membosankan alangkah lebih baiknya jika ada yang menemani.”

“Cih~ kenapa kau memperlakukanku seperti ini?”

“Karena aku menyukaimu.”

“HAH? Menyukaiku? Kau tidak tahu apa-apa, jangan berani menyukaiku.”

“Wae? Aku memang tidak tahu apa-apa tapi aku akan belajar untuk mengetahuinya.”

“Kau! Apa kau tahu alasan  aku dirawat disini?”

“Tentu saja karena kau sakit, orang bodoh saja tahu itu.”

“Dengarkan aku baik-baik, aku jamin setelah kau mendengarkan ucapanku kau akan menarik kata-kata bodohmu itu. Aku sakit AIDS penyakit ini bersarang di tubuhku sejak aku lahir. Aku tahu, kau adalah orang yang selalu menolongku, tapi pertolonganmu itu sia-sia karena apapun yang kau, Jia eonni dan dokter lakukan aku akan tetap mati, cepat atau lambat. Jadi pergilah aku tidak mu melihatmu!”

Myungsoo diam dia benar-benar syok dengan apa yang suzy katakan, bibirnya kelu dia tidak mampu berkata apa-apa.

“Pergilah, jebal!” mohon suzy dengan deraian air mata yang meluncur di pipinya.

Myungsoo melangkah mundur, dia kemudian berbalik dan membuka pintu dan keluar dari ruangan. Melihat myungsoo sudah keluar, tangisan suzy semakin menjadi, dia menangisi dirinya sendiri yang menyedihkan.

Tanpa suzy ketahui myungsoo belum meninggalkannya dia masih ada, dia diam sibalik pintu. Di dapat dengan jelas mendengar suara tangisan suzy. Myungsoo menyandarkan tubuhnya di pintu matanya terpejam, tangan kanannya menyentuh dadanya yang sesak.

Myungsoo POV

Bodoh!! Aku tahu kau sakit parah, tapi aku takkan pernah menjauh darimu karena penyakitmu itu. Aku akan menemanimu sampai helaan nafas terakhirmu.

Suzy POV

“Dengarkan aku baik-baik, aku jamin setelah kau mendengarkan ucapanku kau akan menarik kata-kata bodohmu itu. Aku sakit AIDS, penyakit ini bersarang di tubuhku sejak aku lahir. Aku tahu, kau adalah orang yang selalu menolongku, tapi pertolonganmu itu sia-sia karena apapun yang kau, Jia eonni dan dokter lakukan aku akan tetap mati, cepat atau lambat. Jadi pergilah aku tidak mu melihatmu!”

Aku tidak menyangka, kalimat ini meluncur deras dari bibirku, aku tidak tahu kenapa aku mengatakan kenyataan ini padanya. Kenyataan yang selama ini aku rahasiakan bahkan ji eun sahabat baikku dia tidak tahu hal ini.

Aku melihat tubuhnya menegang, dia pasti kaget dengan apa yang kukatakan.

“Pergilah, jebal!” pintaku dengan air mata yang sudah meleleh di pelupuk mata. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku. Aku melihat dia perlahan berjalan mundur dan pergi meninggalkanku.

Tangisanku pecah, tanpa bisa kukendalikan. Aku tidak tahu perasaan yang melandaku saat ini. Dadaku sesak, perkataanku barusan berkebalikan dengan apa yang hatiku inginkan.

Aku baru menyadari kalau aku merasa nyaman jika dia ada didekatku, aku selalu berkata sinis padanya dan memperlakukan dia dengan buruk tapi dia tetap menyunggikan senyumnya dan tetap datang menjengukku setiap hari.

Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya sampai aku mengingat kenyataan bahwa aku sakit, penyakit yang mematikan dan penyakit yang paling hina di dunia, AIDS.

Penyakit yang tidak mengizinkanku untuk menyukainya, menyukai kim myungsoo.

^~^~^

Author POV

Dua hari setelah kejadian itu myungsoo tak pernah lagi datang ke rumah sakit untuk menjenguk suzy. Jia merasa aneh dengan ketidak datangan myungsoo ke rumah sakit, tapi dia tetap diam dia tidak berani bertanya pada suzy. Dia tahu, ada sesuatu yang telah terjadi diantara mereka.

“Suzy~ah kita jalan-jalan keluar, kau pasti bosan diam di kamar setiap hari.” Ajak jia sambil menyiapkan kursi roda.

Suzy mengangguk, perlahan dia bangkit dari tempat tidur dibantu oleh Jia. Dengan susah payah akhirnya suzy duduk di kursi roda.

“Kajja!”

Tok.. tok.. tok..

Terdengar suara ketukan pintu, Jia dan suzy saling memandang. Pintu perlahan terbuka, mata suzy membulat melihat sosok myungsoo masuk ke dalam kamar. Suzy tidak menyangka myungsoo akan datang menemuinya setelah apa yang dia katakan dua hari lalu.

“Annyeong haseo Jia noona, suzy~ah!” sapa myungsoo dengan senyuman khasnya.

“Annyeong! Myungsoo~ah, kemana saja kau dua hari ini?”

“Noona, kau merindukanku ya? Hhaa~ aku mengikuti festival music di busan. Jadi tidak bisa mengunjungi suzy.”

“Oh begitu!”

“Eh iya noona, dokter jung mencarimu, dia bilang ada yang harus dibicarakan denganmu.”

“Benarkah? Ah tapi aku mau mengajak suzy jalan-jalan keluar.”

“Gwenchana eonni, aku disini saja.”

“Biar aku saja yang menemani suzy, noona.”

“Gomawo myungsoo~ah, tolong jaga suzy baik-baik.”

Myungsoo mengangguk, setelah melihat anggukan myungsoo Jia keluar meninggalkan suzy dan myungsoo.

“Aku tidak mau jalan-jalan, kau saja yang jalan-jalan.” Ujar suzy sinis. Suzy mendorong kursi rodanya menuju tempat tidur. Myungsoo hanya diam memperhatikan suzy.

Suzy bangkit dari kursi roda, dia mulai melangkah perlahan menuju tempat tidur tapi tiba-tiba lututnya lemas, kakinya tidak mampu menopang tubuh suzy, dan akhirnya suzy jatuh terduduk.

Myungsoo menghampiri suzy dengan raut khawatir terlihat jelas di wajahnya “Gwenchana?”

Tak ada tanggapan dari suzy, suzy hanya menunduk memandang kakinya dan kemudian memukul kedua kakinya “Kaki bodoh! Aku ingin berdiri!!” umpatnya. Suzy terus memukul kakinya sendiri makin keras. Myungsoo memegang tangan suzy untuk menghentikannya “Hajima! Jangan menyakiti dirimu sendiri.”

Suzy menatap tajam myungsoo, “Apa pedulimu? Aku menyakiti diriku sendiri, karena ini tubuhku.”

“Apa peduliku? Tentu saja aku peduli, bukankah kau juga sudah tahu, aku meyukaimu.”

“Tapi aku tidak, aku membencimu!!”

“Apa alasanmu membenciku?”

Suzy terdiam..

“Jawab!!”

“Aku membencimu karena kau membuatku menyukaimu.”

Myungsoo tertegun dengan jawaban suzy, tanpa berkata apa-apa dia menarik tubuh suzy kedalam pelukannya.

Suzy menangis, tangisan yang sulit diartikan oleh dirinya sendiri. Di satu sisi dia lega telah menyatakan perasaan yang sesungguhnya di sisi lain dia takut dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi dia membuang jauh-jauh ketakutannya itu, suzy tetaplah gadis biasa yang ingin merasakan bagaimana jatih cinta.

Myungsoo semakin mempererat pelukannya, dia berbisik di telinga suzy “Gomawo!”

Tanpa mereka sadari Jia melihat semua kejadian itu, dia menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar. Dia mengingat percakapannya dengan dokter jung.

“Jia ssi, kondisi suzy semakin lama semakin lemah, aku harap kau menguatkan mentalmu.”

“Dokter bercanda, suzy selalu meminum obatnya setiap hari aku pastikan itu.”

“Obat-obat itu hanya menjaga kondisinya agar tidak terlalu drop.”

“Maksud dokter? Suzy…”

“Kondisi suzy akan semakin melemah sampai akhirnya dia… kau juga tau sendiri jawabannya.”

^~^~^

Suzy duduk di kursi roda sambil memandang keluar jendela, dia merasakan kondisinya semakin lama semakin melemah bahkan sekarang dia tidak sanggup untuk berjalan. Ia sadar hidupnya tak akan lama lagi. Suzy menghela nafas berat, sampai di penghujung hidupnya dia masih saja menyusahkan orang lain terutama Jia. Dia merasa sangat bersalah karena kehidupan Jia terganggu olehnya, meskipun begitu Jia tidak pernah menunjukkan raut kelelahan di wajahnya, dia selalu menyembunyikannya dengan senyuman. Suzy bersyukur, meskipun sejak lahir ia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya tapi dia masih bisa mendapatkan kasih sayang dari Jia. Seorang wanita muda yang baik hati yang menyayanginya dengan tulus.

Di sisa waktunya dia tidak mampu berbuat banyak untuk menyenangkan orang-orang yang menyayanginya, yang bisa dia lakukan hanyalah berdoa untuk orang-orang yang menyayanginya selalu bahagia.

Myungsoo melihat suzy melamun, dia berjalan perlahan menghampirinya. Myungsoo memeluk leher suzy dari belakang “Apa yang sedang kau lakukan?” bisik myungsoo tepat di telinga suzy.

Suzy tersenyum, dia akhirnya juga bisa merasakan jatuh cinta meskipun hanya sebentar. Dan dia juga tahu apa arti cinta, cinta itu menyayangi dengan setulus hati tanpa memperdulikan kekurangan yang dimilikinya. #warning ini gaje, mianhe!#

“Tidak ada, hanya menatap langit yang gelap tanpa bintang.” Jawab suzy.

“Itu karena bintangnya ada disini menemaniku.” Ujar myungsoo sambil mengecup puncak kepala suzy.

Myungsoo melepas pelukannya dan berjalan ke hadapan suzy. Dia berlutut dihadapan gadisnya. Dia tersenyum, menatap tepat di manic mata suzy dengan tatapan sayang. Dia memperhatikan gadisnya dengan seksama, gadis yang disukainya sejak suzy masuk sekolah, gadis yang ia perhatikan dari kejauhan, gadis yang telah mencuri hatinya selama ini. Kini penampilan gadisnya sangat berbeda jauh dari pertama ia melihatnya, berat badannya turun drastis, pipi chubbynya kini menjadi tirus. Meskipun begitu rasa sayang myungsoo terhadap suzy tidak berkurang melainkan bertambah.

Suzy menundukan wajahnya mendekat ke wajah myungsoo, dia menyentuh wajah myungsoo dan tersenyum “Terima kasih telah hadir di kehidupanku dan menyayangiku dengan tulus di kehidupan singkatku.”

Suzy menempelkan bibirnya di bibir myungsoo dengan diiringi oleh air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Myungsoo menutup matanya, air matanya juga turun.

^~The end~^  

 

Annyeong!!

Ini ff Myungzy pertamaku, mohon bantuannya *?*

55 thoughts on “[Freelance] Last story

  1. Serem amat dah…
    Bikin sequel dong thor tp,yg Happy Ending…
    Yah suzy dpet Mukjizat dr Tuhan krn cinta tulus MyungZy…jd penyakitnya hilang…
    Hohoho

  2. Akujd ikutan sedih baca ff ini
    huaaa tapi aku suka kok ff yg genrenya sad
    mungkin endingnya rada gantung itu suzynya meninggal atau nggak yah??? #maklumin yah ini reader pabbo soalnya hehehe
    Tapi ff ini feelnya dapet kok
    kutunggu ffmu yg lainnya keep fighting ya author ^.^)9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s